Solo memang merupakan salah satu kota dengan destinasi wisata yang lengkap. Mulai dari wisata kuliner, wisata sejarah hingga wisata belanja semuanya tersedia di kota Bengawan ini.
Belakangan muncul kembali salah satu ikon wisata sejarah yang diwadahi dalam wisata kampung. Jika dua wisata kampung batik sudah tersedia, kini muncul wisata kampung Baluwarti, kampung yang dekat dengan area keraton. Melalui wisata ini ditawarkan suasana perkampungan dengan tata ruang dan arsitektur bangunan Jawa Klasik yang sangat kental. Hampir di setiap sudut perkampungan ini masih memiliki keaslian sentuhan Jawa Klasik yang masih dipertahankan.
Berawal dari gagasan ingin mengangkat potensi keindahan arsitektural kampung Baluwarti, Himpunan Pramuwisata Indonesia mencoba menghadirkan alternatif wisata perjalanan kampung Baluwarti. Uniknya perjalanan jelajah kampung Baluwarti ini menggunakan moda transportasi kereta wisata budaya atau yang disebut dengan Kereta Widaya. Kereta ini dikreasi sedemikian rupa menyerupai kereta milik keraton.
Menurut Darsono pemilik Kereta Widaya, modifikasi kereta tersebut sengaja dibuat menyerupai kereta keraton agar nuansanya bisa menyatu dengan lingkungan keraton. “Selain berwisata, para wisatawan bisa secara langsung menikmati budaya yang ada di daerah Solo,” kata Darsono.
Kereta yang beroperasi dari pukul 11.00 ini telah memperoleh izin resmi dari Sinuhun PB XIII. Untuk menyosialisasikan keberadaan wisata jelajah kampung ini bekerja sama dengan pemandu keraton. Untuk memperkenalkan nilai sejarah kampung tersebut, para wisatawan akan didampingi para guide yang paham akan tempat tersebut dengan menumpangi Kereta Widaya.
Blangkon dan Samir
Kereta yang baru saja dioperasikan tiga hari ini ternyata mengundang antusiasme wisatawan yang ingin mengetahui seluk-beluk kampung Baluwarti. Bagi yang memanfaatkan kereta ini selain memperoleh pengetahuan, para wisatawan akan diseragamkan memakai blangkon dan samir yang telah disediakan.
“Dengan adanya wisata jelajah kampung ini, juga akan mempermudah bagi para wisatawan yang berprofesi sebaga arsitektur, secara tidak langsung ini akan memberikan wawasan pengetahuan kepada mereka,” jelas Darsono.
Adapaun rute yang dilalui yakni dari Museum Keraton menyusuri kampung Gondorasan atau kampung yang dipergunakan untuk membuat sesajen. Setelah itu wisatawan akan dibawa keliling ke Lumbung Wetan, kampung terlama yang ada di Baluwarti. Kemudian dilanjutkan ke Magangan, Sitinggil Selatan, Alun-alun Selatan dan berakhir di Kamandungan.
“Kita mencoba mengenalkan wisatawan lebih dekat dengan kota Solo,” ungkap Sri Wahyudi Penanggung jawab Kereta Widaya.
Sri Ningsih
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




