Adalah Kelompok Kesenian Bharata yang berusaha beradaptasi dengan tuntutan zaman. Pementasan dengan dialog panjang berbahasa Jawa halus diperpendek dan dicampur sedikit bahasa Jawa Ngoko atau bahasa gaul sehari-hari (Kompas, 17/1). Ini adalah jurus untuk mempertahankan sekaligus memperluas pasar penonton.
Bharata adalah satu dari sekian jenis kelompok seni yang bergulat melawan dominasi globalisasi yang semakin menyempitkan ruang gerak mereka. Kini wayang bukan pemain tunggal. Globalisasi telah menciptakan kompetitor bagi hiburan lokal, termasuk bagi kelompok seni wayang. Globalisasi mampu menyodorkan banyak alternatif hiburan yang tidak terbatas pada dimensi ruang dan waktu. Akhirnya, pilihan untuk menikmati hiburan adalah domain privat yang lebih bersifat subjektif atas dasar like and dislike yang tidak bisa diperdebatkan.
Namun, di tengah hingar bingar dunia yang semakin intim dengan globalisasi, wayang kulit purwa adalah salah satu dari sekian jenis wayang yang paling eksis. Berdasarkan pengamatan penulis, wayang kulit purwa masih menjadi alternatif hiburan yang digemari. Argumentasi ini didasarkan pada penelitian yang penulis lakukan antara bulan Februari hingga Desember 2009 di salah satu daerah di Jawa Tengah bagian selatan. Namun demikian, tulisan ini tidak bermaksud dijadikan sebagai bahan generalisasi.
Eksistensi wayang kulit purwa adalah akibat dari serangkain sebab yang setidaknya ada tiga hal. Pertama, kemampuan wayang dalam beradaptasi dengan kondisi zaman. Wayang kulit purwa memiliki kemampuan hamot, hamong dan hamemangkat (Bambang Harsrinuksmo : 1999). Hamot artinya terbuka menerima unsur baru yang datang dari luar. Hamong adalah kemampuan wayang dalam menyaring unsur baru yang masuk sehingga keberadaannya tidak bertentangan dengan unsur lama, sedangkan hamemangkat adalah kemampuan mentransformasi unsur yang masuk menjadi bentuk yang baru.
Hamot, hamong dan hamemangkat tercermin pada kemampuan wayang dalam mengadopsi berbagai macam hiburan dalam satu pementasan sekaligus. Wayang menjelma menjadi pertunjukan serba ada. Ada alur cerita yang kaya akan ajaran keutamaan hidup, karawitan, lagu klasik, pelawak dan bahkan ada hiburan yang sedang tren di kalangan anak muda seperti musik campursari, pop hingga musik rock. Wayang mampu mentransformasi dirinya sehingga tidak terkesan ketinggalan zaman. Wayang bersifat adaptif mengakomodasi unsur baru tetapi tetap tidak meninggalkan unsur lama yang terkenal adi luhung. Wayang juga multifungsi baik sebagai tontonan (hiburan) maupun sebagai tuntunan (ajaran yang dipakai sebagai pedoman hidup). Ia juga merupakan seni yang multiguna baik sebagai media syiar agama (dakwah), media kampanye dan media sosialisasi. Kemampuan hamot, hamong dan hamemangkat inilah yang menyebabkan wayang kulit purwa masih tetap relevan untuk ditonton oleh penonton dari lintas generasi.
Kedua, adanya pengaruh mitis. Menurut Peursen (1988), wayang termasuk mitos. Mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Menurut Peursen pula, salah satu fungsi mitos adalah memberi jaminan pada masa kini. Inilah fungsi mitos yang terdapat dalam wayang kulit purwa. Bagi masyarakat pedesaan, wayang masih terselimuti oleh aura mitis. Legitimasi teoretis dari argumentasi ini tampak dari bagaimana cara masyarakat memahami, meyakini dan memperlakukan wayang, baik dari perspektif wayang sebagai benda seni maupun wayang sebagai nilai religius. Bagi sebagian masyarakat, pertunjukan wayang bukan pertunjukan biasa, tetapi merupakan manifestasi dunia transendental yang tersaji dalam serangkaian alur cerita yang syarat makna religius. Dari hal yang paling sederhana, memilih lakon adalah urusan mudah tetapi tidak bisa dipandang remeh. Lakon disesuaikan dengan jenis hajatan yang sedang digelar dan dipilih berdasarkan pertimbangan asep atau tuah.
Alam bawah sadar masyarakat seakan telah terbentuk mindset, pantang hukumnya memilih lakon kontroversial (misalnya lakon tentang kematian) pada acara yang diselenggarakan secara personel, lakon kematian diyakini akan berdampak buruk bagi kehidupan penanggap di kemudian hari. Secara tidak langsung, lakon adalah munajat, lakon yang dipilih untuk dipentaskan sebisa mungkin yang dapat memberikan jaminan kebaikan bagi keberlangsungan hidup penanggap beserta keluarganya. Misalnya dalam acara khitanan, lakon yang dipentaskan adalah Lahire Gatotkaca. Gatotkaca adalah ksatria sakti mandraguna yang berbudi luhur, harapannya, anak yang dikhitan kelak menjadi manusia berbudi luhur layaknya Gatotkaca.
Selain itu, bagi masyarakat yang memiliki punagi (kaul, nadzar) untuk menanggap wayang, secara otomatis akan menanggap wayang bagaimanapun kondisinya. Nadzar adalah kesanggupan yang dilaksanakan ketika apa yang diinginkan telah tercapai (Kamus Bahasa Jawa : 2001). Punagi membantu menguatkan ketetapan hati terhadap masalah yang sedang dihadapi. Orang yang berpunagi biasanya orang yang sedang memiliki permasalahan pelik, ia berjanji akan menanggap wayang jika dapat keluar dari masalah yang sedang ia hadapi.
Ngluari punagi atau merealisasikan punagi hukumnya wajib yang menjadi suatu keharusan. Bila keinginan telah tercapai sedangkan punagi belum dilaksanakan, oleh masyarakat tertentu hal ini diyakini akan berimplikasi pada munculnya permasalahan-permasalahan baru. Bila terjadi hal demikian, mereka segera tanggap dan akan menarik korelasi antara munculnya masalah baru dengan punagi yang belum dilaksanakan, dengan redaksi yang lain, masalah baru yang muncul merupakan early warning system agar punagi segera direalisasikan. Pijakan hukum yang dipakai adalah hukum kausa, bahwa punagi yang belum dilaksanakan menjadi penyebab munculnya masalah baru.
Ketiga, kelompok yang berkepentingan dengan masalah wayang (dalam hal ini pengrajin wayang, distributor wayang, dalang, niyaga) mengapresiasi wayang karena motivasi ekonomi. Wayang menjadi medium bertemunya banyak kepentingan yang bila dirunut panjang, muaranya bertemu pada satu titik yang sama yakni pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia. Sebagaimana jamak diketahui, bahwa kebutuhan hidup manusia bukan hanya pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga pemenuhan rasa aman, ekspresi seni dan yang lain.
Namun demikian, adalah hal yang tak terelakkan bahwa ada sekelompok orang yang memandang wayang dari perspektif ekonomi. Wayang adalah komoditas, wayang adalah sawah ladang. Bagi kelompok ini, berkesenian adalah opsi alternatif sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tentu sah dan tidak salah berkesenian atas dasar motif ekonomi. Memang benar, kesenian yang berangkat atas dasar motivasi ekonomi telah melahirkan seni yang berorientasi pasar, dan inilah lubang hitam yang paling berbahaya karena seni yang demikian akan lebih mementingkan kepuasan pasar yang akan berimplikasi terhadap menipisnya nilai seni yang sakral dan akan mereduksi seni yang adi luhung.
Namun di sisi lain, seni yang berangkat dari motif ekonomi justru akan menjadi garansi terhadap eksistensi seni itu sendiri. Seni yang berangkat dari kepentingan ekonomi justru dapat menjadi stimulus bagi terciptanya seni yang lebih kompetitif. Seniman yang kompetitif akan laku di pasaran, sebaliknya seniman yang tidak kompetitif akan tidak laku. Sebagai konskuensi logis, karena taruhannya adalah pemenuhan kebutuhan hidup, maka kelompok yang berkepentingan tidak mungkin berpangku tangan dengan berkesenian ala kadarnya. Mereka akan mengerahkan segala potensi untuk meningkatkan kompetensi berkeseniannya agar tidak terseleksi oleh alam.
Penulis adalah Pemerhati sosial dan budaya
Tinggal di Solo
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







