Sebaiknya jangan menganggap pilek, demam atau sakit tenggorokan sebagai sakit yang biasa dan dibiarkan tanpa diperiksakan ke dokter. Bisa jadi gejala tersebut adalah radang tenggorokan atau masyarakat menyebutnya dengan amandel.
Amandel atau disebut juga dengan tonsil sebenarnya bukanlah penyakit melainkan nama sebuah organ yang terletak di dalam kerongkongan. Organ ini merupakan lini pertahanan pertama tubuh yang memproduksi immunoglobulin yang berguna untuk membunuh kuman penyakit yang masuk melalui mulut, hidung, dan kerongkongan. Bentuknya tidak bulat, licin, bercelah dan terdiri dari tiga pasang yang membentuk lingkaran disebut dengan cincin kelenjar getah bening (ring of waldeyer).
Pasangan pertama disebut dengan tonsil faringealis atau adenoid, terletak di dinding belakang saluran napas bagian atas (faring) dan di belakang hidung. Pasangan kedua adalah tonsil palatina yang terletak di sisi kiri dan kanan pada lengkungan antara anak lidah (uvula) dan dasar mulut. Sementara pasangan ketiga adalah tonsil lingualis, letaknya berada di permukaan atas pangkal lidah.
“Karena letaknya tepat di pintu masuk saluran napas, makanan dan minuman maka tonsil juga berfungsi menghancurkan mikroorganisme yang masuk melalui pintu atas sistem pernafasan dan pencernaan,” ujar dr Sarwastuti Hendradewi, Sp THT-KL, Msi. Med, spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Surakarta.
Pada saat orang menginjak usia dewasa, tonsil palatina sudah tidak berfungsi lagi sehingga menjadi sarana berkumpulnya bakteri dan sisa makanan yang mati. Hal ini mengakibatkan tonsil palatina menjadi sarang infeksi, kemudian membesar, sehingga mengganggu jalan napas, inilah yang disebut dengan amandel.
“Jadi, jangan dibayangkan peradangan amandel hanya terjadi di tenggorokan, karena keberadaan amandel tak hanya di situ melainkan di belakang hidung, antara anak lidah dan pangkal mulut, dan permukaan pangkal lidah,” ujar Dewi, panggilan akrabnya.
Pembengkakan Leher
Awalnya ketika tonsil terinfeksi, tampak abu-abu atau kekuningan dan area di sekitarnya akan tampak lebih merah. Di leher tampak pembengkakan karena pembesaran kelenjar getah bening ketika memproduksi sel untuk melawan infeksi.
“Infeksi pada tonsil terbagi dua yaitu akut dan kronis. Pada radang akut, biasanya diawali demam tinggi dengan rasa sakit di tenggorokan, nyeri menetap di belakang rongga mulut yang bisa dirasakan sampai telinga bahkan kepala, lidah terasa tebal dan bengkak, bila menekan kelenjar getah bening yang terdapat di bawah dagu akan terasa nyeri,” ujar Dewi.
Pada infeksi kronis, lanjutnya, biasanya penderita akan merasakan seperti ada sesuatu yang menyekat di tenggorokan, terasa kering dan nyeri berulang serta napas berbau. Apabila terjadi pembesaran tonsil maka terjadi sesak napas hingga mengakibatkan tidur mengorok. “Fungsi tonsil akan mencapai puncaknya ketika anak berusia 5 hingga 10 tahun, kemudian terus-menerus mengecil hingga akhirnya berfungsi minimal di usia 12 tahun,” paparnya.
Dikatakannya, bahayanya ketika amandel sudah terlalu sering terinfeksi, lama kelamaan tonsil tidak dapat mengecil. Salah satu indikasi yang paling mudah diamati adalah seringnya anak mengalami demam, pilek atau batuk.
Dewi menjelaskan, ada 2 tipe amandel yang umumnya terjadi yaitu tipe fibrotik (kecil) dan tipe hipertropik (besar). Tipe fibrotik adalah tonsillitis yang sering terjadi pada anak-anak. Pada anak-anak infeksi biasanya hampir selalu diikuti oleh infeksi pada adenoidnya, sehingga disebut dengan adenotonsilitis kronis.
Gejala yang sering muncul adalah sulit menelan, mengorok dan tidak nyenyak bila tidur, mulut sering terbuka sehingga terkesan “bodoh”, tidak jarang juga mengalami batuk pilek. “Orangtua biasanya mengira anaknya hanya mengalami demam atau pilek biasa, namun sebenarnya bisa jadi sakit tersebut adalah tanda-tanda amandel,” imbuh Dewi.
Sedangkan tonsilitis hipertropik adalah tipe yang sering terjadi pada orang dewasa. Dari tipe ini jika telah membesar akan mengakibatkan gangguan tidur karena sumbatan jalan napas. Sehingga bisa saja napas akan terhenti sesaat ketika tidur (obstructive sleep apnea syndrome). Terlebih jika terjadi komplikasi, maka sangat berbahaya karena menjalar ke organ tubuh yang lain seperti telinga, jantung, otak, ginjal, dan lainnya. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






