Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Jangan Sembarangan Memberi Antibiotik pada Anak

Jumat, 19/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam memerangi infeksi yang ditimbulkan oleh kuman. Walaupun pemakaian antibiotik yang baik berlaku untuk semua umur, tetapi antibiotik untuk populasi pediatrik (anak) perlu memperoleh perhatian khusus seperti kecenderungan pemakaian yang berlebihan. Sebab penggunaan antibiotik secara irasional atau berlebihan pada anak saat ini semakin meningkat dan semakin mengkhawatirkan.
Penggunaan irasional artinya penggunaan tidak benar, tidak tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya dan hal ini justru akan membahayakan anak. Banyak kerugian yang terjadi bila pemberian antibiotik berlebihan tersebut tidak dikendalikan secara cepat dan tuntas. Kerugian yang dihadapi antara lain meningkatnya resistensi terhadap bakteri. Belum lagi perilaku tersebut berpotensi untuk meningkatkan biaya pengobatan. Seperti diketahui bahwa harga obat antibiotik merupakan bagian terbesar dari biaya pengobatan.
Sakit (disease) adalah gejala klinik akibat berbiak dan banyaknya kuman yang ada di dalam tubuh. Penggunaan antibiotik, didasarkan pada upaya untuk menghilangkan dan membunuh kuman di dalam tubuh.
Dijelaskan dr MM Deah Hapsari SpAK, spesialis anak dari RSUP Dr Kariadi Semarang, pada prinsipnya apabila penyakit pada manusia disebabkan oleh kuman yang banyak dan berbiak di dalam tubuh, maka penderita akan sembuh jika kuman itu dibunuh. Pencarian cara membunuh kuman akhirnya dapat dilakukan dengan memasukkan antibiotik, zat yang berasal dari tanaman yang menyebabkan kematian dan menghambat pertumbuhan kuman.
“Saat ini, penggunaan antibiotik makin lama makin ‘rakus’ sehingga terjadilah over use antibiotik. Akibatnya terjadi problem resistensi antibiotik khususnya pada pasien bayi dan anak yang telah lama menjadi perhatian khusus,” ujar Deah, saat menjadi pembicara dalam simposium sehari Manajemen Terkini Tumbuh Kembang Anak yang Optimal dalam rangka pelantikan dokter periode 171 dan dies natalis ke-34 UNS belum lama ini.
Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik adalah gangguan beberapa organ tubuh. Apalagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ mereka masih belum tumbuh sempurna.
Menurut Deah, terdapat dua hal yang melatarbelakangi penggunaan antibiotik secara berlebihan pada anak. Pertama, kekhawatiran tidak dapat membedakan infeksi bakterial atau karena penyebab lainnya yang bukan infeksi bakterial. Kedua, ketakutan orangtua maupun dokter karena dikhawatirkan infeksi bakterial semakin memburuk dengan cepat akibat sistem imun yang belum sempurna pada anak. “Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa dokter dan orangtua dari anak kecil merupakan kontributor utama problem resistensi antibiotik,” ungkapnya.
Harus Rasional
Pemakaian antibiotik rasional adalah pemberian antibiotik yang sesuai dengan diagnosis penyakit, pemilihan jenis yang tepat, sehingga mencapai sasaran dengan efek samping yang seminimal mungkin. Dipaparkan Deah, rumah sakit merupakan tempat di mana penggunaan antibiotik paling banyak ditemukan terutama pada anak.
Antara 13 hingga 37 persen pasien yang berada di rumah sakit di negara-negara maju mendapatkan antibiotik baik secara tunggal maupun kombinasi. Sedangkan pada negara-negara berkembang hampir 30 hingga 80 persen penderita yang dirawat di rumah sakit mendapatkan antibiotik.
Deah menerangkan untuk mengatasi terjadinya ketidakrasionalan dalam pemberian antibiotik baik oleh dokter maupun pasien, diperlukan pengetahuan dokter tentang pola penyakit dan agen penyebab penyakit setempat, indikasi terapi antibiotik, ketajaman klinis yang baik dari dokter, serta upaya edukatif dari dokter pada pasien. Di samping itu diperlukan pula pengetahuan dokter dalam hal farmakokinetik serta farmakodinamik antibiotik.
“Hal lain yang perlu diperhatikan pada pemakaian antibiotik adalah dosis, cara pemberian, dan indikasi pengobatan yakni apakah sebagai pengobatan awal (empiris), pengobatan definitif (berdasarkan hasil biakan) atau untuk pencegahan (profilaksi),” katanya.
Dalam pemberian antibiotik pada anak, perlu dipertimbangkan hal seperti sensitivitas kuman terhadap antibiotik. Untuk mengetahui hal ini dapat dilakukan dengan biakan kuman dan uji kepekaan terhadap antibiotik tersebut. Namun, dalam praktik sehari-hari hampir tidak mungkin melakukan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan terhadap setiap penyakit.
Sehingga pada pasien dengan infeksi dapat diberikan antibiotik yang sesuai dengan penyakit dan perkiraan penyebab penyakit. Cara pengobatan seperti ini termasuk cara trial and error, bila perbaikan klinis kurang memuaskan dapat diganti dengan antibiotik lainnya. (Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :