Mama kok, perutnya bisa gede, hamil. Kenapa bisa perut Mama isinya adek kecil, datangnya dari mana, “ ucap Vino saat ngobrol berdua dengan sang ibu, Yuniar Wijaya (37).
Yuniar mengaku sering kali dibuat kebingungan ketika sang buah hati tanya hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Karena kalau dijelaskan secara gamblang, dikhawatirkan malah anak tidak paham.
“Jadi saya merasa bingung, mau menjawab dengan cara bagaimana, kalau dijelaskan secara biologis juga mereka belum ngerti. Kadang saya juga berpikir, ni anak kok bisa-bisanya tanya hal semacam ini, siapa yang ngajarin,” papar Yuniar.
Yuniar merupakan salah satu dari sekian banyak ibu yang memiliki persoalan yang sama. Tugas yang sulit bagi orangtua apabila diminta untuk menjawab pertanyaan seputar masalah seksualitas. Hal ini biasanya membuat orangtua cenderung menghindarinya. Dengan tidak memberikan informasi maka anak akan semakin penasaran dan rasa ingin tahunya menjadi semakin tinggi. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya anak akan cenderung mencari informasi dari luar.
Menjadi berbahaya ketika informasi yang didapatkan adalah informasi yang salah, informasi yang tidak sesuai dengan usianya, dan informasi yang tidak dibarengi dengan nilai-nilai yang harusnya dipahami oleh anak. Oleh karena itu mengalihkan pembicaraan atau membiarkan anak mencari sendiri jawabannya adalah hal yang sebaiknya tidak dilakukan para orangtua.
Mauna, Psikolog Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta mengatakan, sebaiknya orangtua bisa memberikan pendidikan seks kepada anak sejak dini. Saat anak bertanya maka saat itulah yang paling tepat untuk mendiskusikannya dan memberikan pendidikan seks pada anak sesuai dengan usianya.
”Apabila orangtua tidak memberi jawaban maka anak akan mencari informasi dari luar. Nah kalau informasi yang didapatkannya salah, tidak sesuai dengan usia maupun tidak dibarengi dengan nilai-nilai yang harus dipahami maka informasi ini akan dihayati anak sebagai kebenaran dan akan sulit bagi orang dewasa atau orangtua meluruskan penghayatan anak yang sudah telanjur keliru,” jelas Mauna.
Sesuai Umur
Menurut Mauna, banyak orangtua yang salah paham karena menganggap pendidikan seksualitas adalah hal yang tabu. Orangtua sering tak menyadari bahawa kondisi yang demikian malah mendorong anak melakukan hal-hal yang keliru juga, seperti seks bebas, menjadi pelaku maupun korban pelecehan seksual.
“Ada sebuah panduan dari Australian Research Center in Sex, Health and Society (ARCSHS), mengungkapkan berbicara tentang seksualitas kepada anak tidak akan membuat mereka berpikir untuk melakukannya. Justru menunjukkan, anak-anak yang tidak mendapat penjelasan seks dari orangtua cenderung untuk mencobanya lebih awal,” paparnya.
Untuk memberikan pengetahuan seks kepada anak, Mauna menganjurkan, agar disesuaikan dengan kapasitas umurnya. Oleh sebab itu berikan pengetahuan dengan kata-kata yang simpel dan cara-cara yang sederhana. Misal anak usia 1-5 tahun, orangtua bisa memperkenalkan kepada anak organ-organ seks miliknya secara singkat. Tidak perlu memberikan secara detail.
“Yang penting adalah sebutkan nama organ dengan nama sesungguhnya bukan istilah seperti ‘burung’, ‘memek’. Orangtua bisa melakukan ini saat memandikan anak dan mengajari anak untuk menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Perlakukan alat kelamin sama seperti bagian yang lain saat menyebutkannya. Jangan menyebutkan sambil malu, ragu-ragu atau tertawa,” jelasnya.
Selain itu orangtua juga bisa menerangkan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki mempunyai bagian tubuh yang sama dan bagian tubuh yang berbeda. Oleh sebab itu tanamkan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan di hadapan orang lain.
“Hal ini perlu juga dijelaskan kepada anak bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Terangkan juga perilaku dan antisipasi agar anak terhindar dari bahaya pelecehan seksual,” paparnya.
Sri Ningsih
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




