Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Jangan Asal Jadi “Punk”

Rabu, 08/09/2010 09:00 WIB - tegar/bintang

Penampilan bukan jaminan dijadikan sebagai modal kuat bagi kita untuk menilai seseorang. Saat ini, banyak copet berdasi dan mengenakan jas. Ada juga orang yang berpenampilan seadanya dan cenderung tidak stylish, tetapi memiliki kepribadian yang baik, bahkan lebih baik secara intelektual jika dibandingkan dengan mereka yang berpakaian rapi dan bergaya perlente.
Don’t judge the book by it’s cover, mungkin peribahasa ini tepat diterapkan ketika kita hendak menilai seseorang. Soalnya, jangan-jangan kita bisa salah kaprah menilai seseorang, seperti layaknya segelintir mahasiswa yang mencoba mengekspresikan dirinya dengan style punk dalam kehidupan sehari-harinya.
Secara style, mungkin memang mereka yang menganut style punk terlihat gahar, sangat, awut-awutan, antikemapanan atau malah terkesan urakan dengan berbagai atribut seperti gelang, kalung dan baju lusuhnya. Jika demikian, layakkah style punk digunakan saat berada di kampus?  
Mahasiswi Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pignateli Surakarta, Dhiyah Dwi Wulandari, mengungkapkan, style punk sebenarnya lebih pada ungkapan atau ekspresi diri seseorang. Mahasiswa dengan style punk belum tentu mahasiswa yang bodoh atau tidak memiliki pengetahuan atau bahkan mahasiswa yang nakal.
“Itu kan hanya sekadar style aja. Yang penting, mahasiswa jangan sampai menodai nama baik kampus atau merugikan orang lain dengan penampilannya. Harus ada ide kreatif dan keunggulan yang harus mereka miliki, jangan sekadar menang style saja,” katanya.

Ideologi Hidup
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Maya Sekar Wangi, Msi, mengungkapkan, sebenarnya keberadaan kaum punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Menurutnya, pada awal kelahirannya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama.
“Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Hal ini kemudian menjadi tren bagi dunia. Tidak terlepas di Indonesia, aliran punk berkembang dengan cepat dan masuk ke hati para generasi muda yang haus akan pembaharuan,” katanya.
Maya menambahkan, saat ini keberadaan komunitas punk mendapatkan penilaian negatif bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan mereka yang menganut aliran punk atau yag masuk dalam komunitas punk terkesan kumuh.
“Tren punk sangat melekat pada ekonomi menengah ke bawah, terutama anak jalanan dan pengamen. Kampus yang membebaskan mahasiswa untuk berkreasi tidak membatasi gerak-gerik mahasiswa punk, yang terpenting adalah mereka tetap mematuhi peraturan yang berlaku, jika hal ini dilanggar akan diberikan tindakan sesuai dengan peraturan kampus,” tandasnya.
Mahasiswi Jurusan Analisis Kesehatan Akademi Analisis Kesehatan Nasional Surakarta, Regina Kuskarna Eka Dewi, menurutnya, berdandan atau menganut style punk tapi tidak mengetahui falsafah dari punk itu sendiri. Saat ini punk lebih pada sekadar gaya saja. Mahasiswa tidak memahami benar sebenarnya mengapa punk itu ada dan untuk apa punk itu ada.
“Mahasiswa harusnya jangan  hanya sekadar ngikut. Mahasiswa harusnya tahu benar mengenai apa yang dilakukannya. Toh mahasiswa itu adalah kaum intelek. Yang pasti, di kampus tetap ada aturannya. Jadi ya patuhi aturan saja. Komunitas punk itu merupakan generasi muda yang sebenarnya memiliki keinginan untuk mendobrak sebuah sistem yang dianggap tidak benar. Jadi, kalau memang memiliki keberanian semacam itu, ya tidak masalah,” ujarnya. (tegar/bintang)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :