Bagi seniman yang satu ini, memiliki keterampilan menjahit adalah hal yang menjadi kebanggaannya. Hal itu bermula, ketika ada pakaiannya yang sobek dia malas untuk pergi ke tempat penjahit. Pekerjaan itu, kata dia, terlalu sepele untuk seorang perempuan. Bahkan dengan keterampilan menjahitnya, dia tidak perlu membeli baju baru karena bisa membuatnya sendiri.
Itulah yang senantiasa dibanggakan Sri Setyoasih, salah satu personel grup Sahita. Perempuan yang kerap disapa Tintong ini, keterampilan menjahit adalah sisi lain dari kehebatannya sebagai seniman dan dosen tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
”Sebelum kuliah di ISI, saya sekolah di Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) di Pati dengan mengambil jurusan menjahit,” kenang Tintong saat ditemui Joglosemar beberapa waktu yang di ISI Surakarta.
Ibu tiga putra tersebut mengaku menjahit merupakan keterampilan tambahan. Selain jago menjahit, dia juga terampil dalam memasang pernak-pernik di selendang untuk tari. ”Ketika luang atau pas nunggu jam untuk mengajar, waktu tersebut saya manfaatkan untuk meyet baik di baju atau di selendang untuk menari,” terang perempuan yang juga menjadi pimbina dari Komunitas Lesung Bonorejo ini. (dui)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






