Batik adalah primadona. Itulah fakta yang terjadi setelah Unesco secara resmi menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia beberapa waktu lalu. Kota Solo pun menyambutnya, dengan luar biasa, selain berpesta batik, Solo juga berkomitmen membangun dunia wisata dengan mengeksplorasi batik.
Salah satu wilayah yang sudah merintis batik sebagai primadona wisata adalah Kampung Batik Kauman. Salah satu perintis munculnya kompleks wisata Kampung Batik Kauman adalah Gunawan Setiawan. Siapa sebenarnya sosok Gunawan Setiawan, sehingga dia masuk sebagai ”Mutiara Bangsa” pilihan Kota Solo beberapa waktu lalu?
Tampan dan ramah, begitu kesan sekilas yang tampak dari Gunawan Setiawan, sang pelopor Kampung Wisata Batik Kauman, Solo. Tak ada habisnya berdiskusi soal batik dengan pengusaha batik kenamaan Solo yang kini berusia 39 tahun ini.
Ditemui Joglosemar, di kediamannya, di Jalan Cakra 21, Kauman, Solo, dia begitu antusias menanggapi usahanya tentang pencanangan Kampung Wisata Batik Kauman. Tak heran, dia begitu menguasai dunia batik, pasalnya, secara turun-temurun latar belakang keluarganya adalah pengusaha batik. ”Dari orangtua hingga kakek buyut, mereka adalah pembatik yang mewariskan ilmu pada kami,” terang Gunawan, Kamis (4/2) pekan lalu.
Gunawan Setiawan, terlahir dari keluarga pembatik besar di Solo. Geliat usaha batik yang ditekuni Gunawan Setiawan dimulai sejak tahun 1981, ketika dia bersama kakaknya, Muhyidin dan Uswatun Hasanah, melanjutkan usaha batik orangtua mereka.
Kemudian, tahun 2006 salah satu dari pemilik Rumah Batik Gunawan Setiawan ini, bersama beberapa pengusaha dan pemerhati batik serta pengusaha non batik di wilayah Kauman, membentuk Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman untuk melestarikan dan mengembangkan batik.
Bukan sekadar komersialisasi batik, paguyuban bentukannya ini ternyata memberikan pelatihan batik secara gratis kepada masyarakat sekitar Kampung Batik Kauman yang berada di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pelatihan membatik diberikan dengan mengajarkan teknik-teknik membatik, mulai dari menggambar motif atau corak batik, menggunakan peralatan membatik (canting), mengolah malam (lilin untuk membatik), pewarnaan, hingga proses finishing membatik.
Kiprah dari paguyubannya kian meluas. Selain menggandeng organisasi karang taruna setempat untuk memberikan pelatihan membatik gratis, Gunawan Setiawan juga menggandeng Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan mitra bisnis pengusaha batik yang memiliki usaha garmen untuk mengukuhkan misi paguyubannya.
Tularkan Ilmu
Untuk modal pelatihannya, Gunawan dan anggota paguyuban tak sungkan-sungkan patungan menyediakan berbagai peralatan membatik. ”Kami juga menyediakan rumah batik untuk tempat pelatihan. Mengajarkan metode pelatihan membatik secara sederhana. Sekali latihan, pesertanya lima sampai tujuh orang,” tuturnya.
”Semuanya jalan bareng. Bagi kami, kalau melatih tetangga dan mereka berhasil, Insya Allah itu bermanfaat buat kita semua. Ternyata niat kami menularkan ilmu batik tidak sia-sia,” imbuhnya.
Setelah tiga tahun berjalan, kata Gunawan, kini lebih dari 70 perajin serta pedagang batik lahir di Kampung Batik Kauman. ”Padahal, sebelum tahun 2006 perajin serta pedagang batik di Kampung Batik Kauman hanya berjumlah sembilan orang saja,” sebut dia.
Untuk mendukung suksesnya misi Kampung Wisata Batik Kauman, sejak 2006 Gunawan dan rekannya di paguyuban mendirikan museum batik di sekitar kediamannya. Di museum yang menempati rumah peninggalan salah satu saudagar batik yang berjaya pada masa lalu itu, dipamerkan ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dan berbagai peralatan membatik.
Selain pelatihan membatik gratis pada masyarakat, Gunawan juga aktif membagikan ilmu membatik kepada berbagai kalangan. Tamu-tamu yang datang berbelanja di Rumah Batik Gunawan Setiawan selalu diajak menyaksikan proses membatik di tempat produksi batik yang juga berada di rumahnya. ”Konsumen harus tahu proses membatik. Ini cara yang paling mudah untuk mengenalkan batik kepada semua orang,” ujarnya.
Kini putra bungsu dari pasangan Almarhum Muhammad dan Almarhumah Siti Badriyah ini membuka pintu rumah produksi batik untuk tempat belajar membatik bagi kalangan pendidikan, termasuk dari luar negeri.
Berdagang batik, menurut Gunawan, tidak sekadar berbisnis atau soal untung rugi. Bagi Gunawan, batik merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dikembangkan, dan dilindungi sampai kapan pun.
”Salah satu cara melindungi dan menghargai batik adalah menanamkan kebanggaan menggunakan batik kepada setiap orang. Dengan demikian, batik tidak lagi dipandang sebatas busana yang dipakai pada momen tertentu, tetapi menjadi kebutuhan sehingga ada kewajiban mengenakannya setiap saat dalam berbagai aktivitas,” kata Gunawan. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







