SEMARANG—Penanggung jawab pengawasan ujian nasional (UN) Jawa Tengah (Jateng), Prof Fathur Rokhman menegaskan isu kebocoran soal ujian nasional (UN) 2010 yang terjadi di Kabupaten Brebes, Jateng tidak benar.
”Kami sudah mengirimkan tim ke sana (Brebes, red) untuk mengecek dan ternyata isu itu tidak dapat dibuktikan kebenarannya,” katanya usai memantau pelaksanaan UN 2010 di Semarang, Senin (22/3).
Ia mengakui pihaknya memang mendengar adanya isu kebocoran soal UN di beberapa SMA dan SMK di Kabupaten Brebes, sehingga mengirimkan sejumlah tim untuk mengecek kebenaran isu tersebut.
”Kami hanya menemukan adanya penjualan soal UN, namun ternyata itu soal UN tahun-tahun lalu, karena itu kami mengimbau para siswa dan guru tidak terpengaruh dengan adanya isu tersebut,” katanya.
Menurut dia, isu kebocoran soal UN 2010 sebenarnya juga terjadi di wilayah Semarang, sehingga pihaknya langsung mengirimkan tim untuk mengecek kebenaran isu, dan ternyata memang tidak benar.
Ditanya tentang daerah-daerah yang diguncang isu kebocoran soal, ia mengatakan, sementara ini hanya dua daerah tersebut, namun pihaknya menegaskan isu tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya. ”Proses pencetakan soal UN sudah dilakukan dengan pengamanan ketat, termasuk saat pendistribusian soal yang melibatkan pihak kepolisian dan pengamanan di setiap tingkatan panitia penyelenggaraan UN,” katanya.
Fathur menilai, berkembangnya isu kebocoran soal tersebut adalah ulah pihak-pihak tertentu yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi, padahal hal itu sebenarnya sangat merugikan para siswa. ”Kami mengimbau para siswa jangan percaya jika ada pihak-pihak yang menawarkan kunci jawaban UN, karena itu justru merugikan mereka sendiri,” kata Fathur yang juga Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Semarang itu.
Menurut dia, para siswa harus percaya terhadap kemampuannya sendiri dan tidak terpengaruh jika memang ada bocoran soal, karena kebenaran dari kunci jawaban sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan. ”Berdasarkan pantauan pelaksanaan UN hari pertama, kami tidak menemukan adanya pelanggaran atau permasalahan yang berarti, dan kami berharap hal itu tetap berlangsung selama penyelenggaraan UN,” katanya.
Sebelumnya, pihaknya telah menerjunkan 1.500 pengawas untuk mengawal pelaksanaan UN 2010 di Jateng pada 22-26 Maret 2010. (ant)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




