Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Istana Cari Celah Kongres PDIP

Rabu, 31/03/2010 09:00 WIB - ant/oke

JAKARTA—Kubu Istana Negara ditengarai mencari celah dalam perhelatan Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali, 5-9 April mendatang.
”Saya kira istana wait and see untuk mencuri kesempatan di balik pengaruh Megawati di PDIP,” kata Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sumarno, Selasa (30/3).
Sumarno menambahkan, saat ini istana masih sangat sulit mendongkel posisi Megawati Soekarnoputri sebagai orang nomor satu di PDI Perjuangan. ”Jangankan istana, Taufiq Kiemas saja sulit melakukan hal itu,” tambah Sumarno.
Sumarno beranggapan, selama Presiden masih dijabat Susilo Bambang Yudhoyono, maka kemungkinan PDIP berkoalisi dengan Demokrat masih sangat kecil. Ketika ditanya apakah ada kemungkinan ada orang Istana yang ditanam menjadi pemimpin di PDI Perjuangan, Sumarno mengatakan hal tersebut bisa saja terjadi, namun tidak akan berjalan efektif. ”Meski ada wacana wakil ketua umum untuk menaruh orang Taufiq Kiemas dan juga Istana, tetap saja Megawati masih sulit tergoyahkan di PDIP. Ada persoalan ideologis yang berbeda,” terang Sumarno.
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan Taufiq Kiemas kembali menegaskan soal prinsip kesamaan ideologis bila partainya memilih berkoalisi dengan partai pendukung pemerintah. ”Yang penting se-ideologis dulu, kalau nggak seideologis bagaimana cerita (berkoalisi),” ujar Kiemas di Gedung DPR/MPR, Jakarta.
Dikotomi
Kiemas juga enggan bila partainya disebut sebagai partai oposisi. ”Kan tidak ada koalisi atau oposisi,” tandasnya.
Sementara itu, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi mengingatkan dalam kongres PDI Perjuangan di Bali, 5-9 April mendatang jangan terjadi dikotomi antara pilihan untuk berkoalisi atau beroposisi. ”Kalau untuk kepentingan rakyat bersikap koalisi tidak apa-apa,” kata J Kristiadi, di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI) Depok.
Jika pengurus melihat rakyat saat ini sudah sengsara dan perlu segera dientaskan, PDIP harus berani menjadi bagian pemerintahan dan menawarkan programnya kepada Presiden. Menurut Kristiadi, PDI Perjuangan harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa partai tersebut mempunyai program yang jelas, sehingga masyarakat dapat mengetahuinya.
Lebih lanjut ia mengatakan dalam menetapkan pemilihan ke depan partai tersebut harus meninggalkan tokoh-tokoh yang mempunyai karismatik, karena tokoh tersebut tidak akan lama bertahan. ”PDI Perjuangan harus mengedepankan sistem kepemimpinan yang baik untuk menghasilkan pemimpin yang berbobot,” ujarnya.
Sebagai Parpol, kata dia, seharusnya pengurus menyiapkan kader-kader muda yang potensial untuk bisa menjadi pemimpin partai di masa mendatang. Taufiq Kiemas sebelumnya menjamin hasil kongres di Bali akan mengakomodasi minimal 70 persen kaum muda. ”Saya jamin 70 persen yang tampil (di kepengurusan PDIP mendatang) anak muda,” tegas Taufiq.
Menurut dia, sudah tidak ada lagi pilihan lain bagi PDIP untuk segera melakukan regenerasi untuk menjamin keberlanjutan partai itu. ”Yang inginkan tampilnya kaum muda dalam kongres itu memang sudah situasi dan kondisi yang menuntut,” paparnya. (ant/oke)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :