Menunaikan ibadah haji, merupakan impian setiap muslim. Namun terkadang impian tersebut terkendala, salah satunya karena kondisi fisik. Pengaruh cuaca di Arab Saudi sangat rentan menyebabkan jemaah haji terserang beragam penyakit.
Seperti yang diumumkan Departemen Agama RI, penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), merupakan salah satu penyakit langganan para jemaah haji. Jenis ISPA tersebut di antaranya adalah influenza, asma, bronchitis, dan gangguan pernafasan lainnya.
Selain itu, kelelahan fisik, dan serangan jantung koroner, juga menjadi ancaman serius bagai para jemaah haji. Meski demikian, ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengantisipasi agar beragam penyakit itu bisa dihindari.
Konsultan kesehatan haji, dari Fakultas Kedokteran UNS, Prof Dr Suradi, mengatakan sebelum melakukan langkah antisipasi terhadap ISPA, jemaah haji perlu mengenali seputar penyakit ISPA tersebut.”ISPA itu kan jenisnya banyak. Untuk itu, kita harus runut dulu, apa faktor penyebabnya, baru dicari solusinya,” kata dia.
Faktor penyebab ISPA, kata dia, secara garis besar ada dua hal. Pertama, karena faktor lingkungan, dan yang kedua karena faktor riwayat kesehatan. Khusus bagi penderita asma, ia menyatakan, penyakit tersebut tidak akan kambuh, selama faktor pemicunya tidak ada.
”Di Arab lingkungannya cenderung kering, dan berdebu. Sedangkan bila musim dingin tiba, suhu pun cenderung di bawah rata-rata. Itu semua berpotensi timbulkan ISPA. Selain itu riwayat kesehatan pribadi, seperti asma juga perlu diperhatikan. Misal, bila ada yang asmanya kambuh karena alergi es, sepanas apapun suhunya di sana, jangan minum es,” jelasnya.
Daya Tahan
Menurutnya kondisi lingkungan yang kering dan berdebu merupakan faktor utama, yang harus diwaspadai. Sebab kondisi lingkungan tersebut berpotensi mengeringkan saluran pernapasan, yang berefek pada menurunnya daya tahan tubuh.
”Di Arab, jika malam mungkin dingin, tapi tingkat kelembabannya hanya 20-30 persen saja. Padahal saluran pernapasan kita, sudah terbiasa dengan tingkat kelembaban sekitar 70 persen,” paparnya.
”Sekuat apapun daya tahan tubuh, bila saluran napas mengering, pasti akan jatuh sakit. Untuk itu solusinya, jemaah haji harus minum air putih, paling tidak tiga liter per harinya. Jemaah juga harus memakai masker, kalau bisa kita buat sendiri, dan selalu kita basahi dengan air,” imbuh dia.
Suradi menjelaskan, sebenarnya secara normal setiap saluran pernapasan pasti ada kumannya. Namun apabila daya tahan tubuh menurun, kuman tersebut baru akan bereaksi. Lama-kelamaan kondisi itu akan menimbulkan infeksi.
”Untuk itulah, daya tahan tubuh juga harus selalu dijaga. Selain itu para jemaah haji, juga harus rajin melakukan check-up kesehatan, sebelum, sewaktu, dan sesudah melaksanakan ibadah haji,” tuturnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, para jemaah haji yang mempunyai riwayat gangguan kesehatan, diharuskan untuk melanjutkan pengobatannya, atau berkonsultasi pada dokter yang ada. Sebab apabila riwayat kesehatan jelas, maka penanganan terhadap gangguan kesehatan, akan bisa lebih maksimal.
”Jadi bagi yang punya penyakit bawaan, sebaiknya pengobatan juga tetap dilanjutkan. Sehingga risiko penyakit seperti serangan jantung koroner, bisa dicegah sedini mungkin,” pungkasnya. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







