Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

IPW Desak Kapolri Hentikan Tembak Mati Teroris

Jumat, 12/03/2010 09:00 WIB - ant

JAKARTA—Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri untuk menghentikan aksi menembak mati para tersangka terorisme hanya dengan alasan melawan polisi.
”Saya jadi heran. Kok sedikit-sedikit main tembak mati. Mengapa mereka tidak ditangkap hidup-hidup saja,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane di Jakarta, Kamis (11/3).
Ia mengatakan saat Polri dipimpin Dai Bachtiar, penangkapan tersangka terorisme jarang tertembak mati sedangkan saat ini Detasemen Khusus 88 sering menembak mati para tersangka.
”Kemarin Dulmatin dan kedua tersangka lain ditembak mati. Harusnya polisi dapat menangkap hidup mereka agar kita bisa mendengarkan keterangannya di pengadilan nanti,” katanya.
Neta menyatakan saat tertangkap Dulmatin hanya sendirian dan hanya membawa revolver sedangkan jumlah Densus cukup banyak dengan senjata yang lebih banyak. ”Posisi Dulmatin sangat tidak seimbang dibandingkan polisi. Katakan dia hanya punya enam peluru atau paling banyak 12 peluru, maka itu juga bukan alasan untuk menembak mati. Pasti ada acara untuk menangkap hidup,” katanya.
Neta juga mengecam Polri yang menembak mati dua teman Dulmatin padahal mereka sedang mengendarai sepeda motor. ”Masa melawan polisi kok dengan naik sepeda motor. Ada kesan, Densus 88 langsung menembak begitu ada gerakan sedikit saja padahal gerakan itu kan bukan langsung diartikan melawan. Bisa saja mereka terkejut dengan kehadiran polisi,” katanya.
Hal yang sama juga terjadi saat Densus 88 menangkap para tersangka di Bekasi, Temanggung dan Solo terkait kasus bom Marrriot dan Rizt Charlton yang juga diwarnai dengan eksekusi mati para tersangka. ”Kalau mati, polisi tidak banyak keterangan yang diperoleh dan masyarakat tidak bisa mendengar keterangan mereka di pengadilan,” katanya.
Neta meminta Bambang Hendarso untuk mencontoh kepemimpinan Dai Bachtiar yang mengutamakan menangkap hidup teroris tanpa perlu membuang tembakan. ”Saat menangkap para pelaku bom Bali I kayak Amrozi dan Imam Samudra misalnya, tidak ada sebutir peluru pun yang ke luar,” katanya.
Dibandingkan dengan penangkapan tersangka lain, kata Neta, cara penangkapan Imam Samudra patut dicontoh karena dilakukan di dalam bus yang penuh penumpang. ”Salah menangkap, Imam Samudra bisa saja meledakkan bus tapi nyatanya polisi dapat menangkap tanpa perlu keluar sebutir peluru pun,” katanya.
Bahkan, penangkapan Imam Samudera hanya oleh beberapa polisi saja sedangkan penangkapan Dulmatin melibatkan puluhan polisi.
Jika menembak mati ini terus terjadi maka bisa jadi akan ditiru oleh reserse umum saat menangkap kejahatan jalanan misalnya yang dengan mudah melepaskan tembakan mematikan hanya karena tersangka kabur. ”Cara-cara Densus sekarang ini bisa jadi preseden buruk bagi Polri dan harus dihentikan agar tidak ditiru oleh reserse,” katanya.
Sementara itu Kapolri mengemukakan, penembakan yang dilakukan terhadap tersangka teroris tersebut karena mereka melakukan perlawanan kepada Tim Densus 88.
Perlawanan tersebut dengan melepaskan satu tembakan ke arah polisi menggunakan revolver. ”Hal ini dikhawatirkan membahayakan keselamatan polisi dan warga setempat,” katanya. (ant)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :