MAKASSAR—Ketua PBNU KH Masdar Farid Masudi dan mantan Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidlowi menyesalkan adanya intervensi pihak luar ke dalam Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama, terutama terkait pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Menurut Masduki, muktamar kali ini tak ubahnya seperti muktamar di Cipasung pada 1994. ”Sangat kuat intervensi pihak luar untuk mengacak-acak organisasi NU. Caranya, pihak luar itu menuduh seakan-akan pengurus PBNU sekarang ini dalam bekerja dan bertindak tidak menggunakan prinsip-prinsip khitah,” kata Masduki di Makassar, Rabu (24/3).
Ia membeberkan tuduhan itu dimaksudkan untuk memengaruhi pengurus cabang dan wilayah yang mempunyai hak suara saat pemilihan nanti. Selain itu, kata Masduki, intervensi juga dilakukan melalui jalur birokrasi dan partai politik, terutama yang berbasis NU. ”Ada pejabat tinggi yang menelepon gubernur-gubernur agar menyukseskan pasangan calon tertentu yang sudah mendapat restu dari ‘atas’,” tukasnya.
Senada, aktivis muslimat NU, Lily Wahid juga mengendus campur tangan gubernur dan bupati-bupati di daerah soal rekomendasi pengutusan wakil-wakil pimpinan cabang NU di Muktamar. Lily meminta agar muktamirin tetap menjaga persaudaraan. ”Soal urusan memilih ketua PBNU, itu urusan muktamirin. Nggak usah dicampuri. Yang penting para kader NU ingat pesan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang menginginkan warga NU tidak tercerai-berai,” terang adik Gus Dur ini.
Sementara itu, Ketua PBNU KH Masdar Farid Masudi tidak menepis kemungkinan pihak luar, termasuk pemerintah, mengintervensi NU. Namun, menurutnya jika intervensi itu berhasil maka yang paling salah adalah orang NU sendiri karena mau diintervensi. ”Intervensi pemerintah tak salah. Yang salah orang NU karena mau diintervensi,” kata Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) tersebut.
Meski demikian Masdar mengingatkan pihak luar agar tidak mengintervensi NU karena yang rugi bukan hanya NU, tetapi juga bangsa Indonesia. ”Bangsa ini justru akan memperoleh manfaat jika NU dibiarkan otonom sebagai penjaga moral. NU itu institusionalisasi ulama yang independen, kalau diintervensi kekuasaan akan hancur dua-duanya,” ujarnya. (ant/dtc)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




