MAKASSAR—Kendati pemilihan baru akan digelar Sabtu (27/3), jabatan Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) hampir pasti dipegang KH MA Sahal Mahfudz dan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
Berdasarkan sejumlah survei, kedua tokoh NU itu berhasil meraih dukungan terbanyak. Survei Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (Laksnu) menempatkan Gus Sholah sebagai calon yang paling diunggulkan dalam pemilihan ketua umum PBNU.
Direktur Laksnu Gugus Joko Waskito di Makassar, Jumat (26/3), memaparkan survei dilakukan terhadap 200 responden yang merupakan ketua Pengurus Cabang (PC) NU dan ketua Pengurus Wilayah (PW) NU se-Indonesia yang sedang mengikuti Muktamar ke-32 NU, menggunakan metode wawancara via telepon pada 21-25 Maret 2010.
”Data nomor telepon kita peroleh secara resmi dari data base sekretariat PBNU,” katanya. Pertanyaan yang diajukan adalah siapa tokoh yang dianggap layak dan akan mereka pilih dalam pemilihan ketua umum PBNU.
Dari jawaban responden diketahui Gus Sholah memperoleh dukungan tertinggi untuk dipilih yaitu 27 persen, disusul Said Aqil Siradj sebanyak 14,5 persen, dan Slamet Effendy Yusuf sebanyak 1 persen. Sementara responden yang masih merahasiakan pilihannya sebanyak 37,5 persen, dan yang masih ragu-ragu 20 persen.
Sementara itu, hasil survei Lembaga Survei Trust Indonesia yang disebar ke-100 responden yang terdiri dari para muktamirin menunjukkan kedigdayaan Kiai Sahal.
”Kiai Sahal paling populer dan banyak dipilih muktamirin sebesar 49,5 persen, disusul Hasyim Muzadi 24,2 persen, Habib Lutfi bin Yahya 1,1 persen, dan KH Maimun Zubair 5,3 persen. Sedangkan responden yang tidak menjawab sebesar 20 persen,” kata Direktur Eksekutif Trust Indonesia M Imdadun Rahmat.
Menurut Imad, survei ini dilakukan Kamis (25/3) dengan mewawancarai langsung terhadap 100 responden dari total populasi peserta muktamar sebanyak 500 orang. Tingkat kepercayaan survei ini sebesar 90 persen dengan error sampling 2,5 persen.
Dijelaskan Imad, popularitas Sahal Mahfudz ini disebabkan karena responden menilai pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah ini mumpuni dalam senior dari sisi ilmu agama, pengalaman, serta integritasnya.
”Selain itu, responden masih menempatkan syuriah sebagai maqom-nya kiai sepuh untuk menjaga tradisi NU selama ini,” tandasnya. (ant/dtc)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




