SOLO—Rencana pemerintah yang akan menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15 persen pada bulan Juli 2010 mendatang ditentang keras para pengusaha Solo. Rencana kenaikan ini dinilai sangat memberatkan kalangan industri.
Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo yang juga merangkap Kepala Bidang Advokasi dan Hubungan Industrial, Rihatin Boedijono, Selasa (22/12) ketika ditemui wartawan menuturkan dengan kenaikan tarif listrik sebesar 15 persen otomatis akan berpengaruh pada membengkaknya biaya produksi.
Boedi menilai PLN selama ini kurang sensitif. “Selama ini kalangan industri sudah dibebani dengan pajak ganda, pengalihan waktu kerja, dan tarif multiguna. Dan setiap menaikkan tarif, PLN tidak pernah mengajak kalangan industri atau pengusaha untuk urun rembuk. Itu kan namanya sewenang-wenang,” tuturnya.
Disampaikannya, sejak November 2009 pihaknya sudah mengajukan permohonan untuk berdiskusi langsung dengan PLN Jawa Tengah namun hingga kini belum mendapat tanggapan. “Dan terkait rencana kenaikkan TDL sebesar 15 persen ini, kita juga akan menyampaikan surat secara resmi meminta mereka untuk melakukan peninjauan ulang atau bahkan membatalkan rencana tersebut,” tegasnya.
Ditambahkan Boedi, dengan kenaikkan tarif listrik sebesar 15 persen ini bukan tidak mungkin akan membuat banyak industri atau perusahaan yang mengalami kolaps dan pada akhirnya melakukan PHK. Hingga saat ini anggota Apindo Solo berjumlah 250 pengusaha dan lebih dari separuhnya bergerak di bidang tekstil atau garmen di mana listrik menjadi salah satu konsumsi terbesar.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Djoko Santosa. Menurutnya berapa pun besaran kenaikkan TDL yang akan ditetapkan pemerintah tetap akan memberatkan sektor industri. (nie)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







