Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Imunisasi Wajib bagi Anak Hindari Kecacatan dan Kematian

Rabu, 10/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Imunisasi penting diberikan bagi anak untuk melindunginya dari berbagai macam penyakit berbahaya yang sering dapat menyebabkan cacat bahkan kematian. Fungsi utama imunisasi adalah untuk pencegahan terhadap berbagai macam penyakit. Perlu diketahui bagi orangtua, setiap anak baik laki-laki maupun perempuan harus dan berhak untuk mendapatkan imunisasi secara lengkap dan tepat waktu. Orangtua juga harus mengetahui mengapa, kapan, di mana dan berapa kali anaknya mendapatkan imunisasi.
Meski bukan hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak. Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, pasalnya banyak selentingan dan mitos miring yang kontroversial beredar luas di masyarakat mengenai efek samping imunisasi. Mulai dari alergi, autis, hingga kejang-kejang akibat diimunisasi. Memang ada efek samping ketika bayi selesai diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa dihindari.
“Vaksinasi (imunisasi) akan meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya penyakit tertentu pada setiap anak yang melaksanakannya,” ujar dr Hari Wahyu Nugroho dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Surakarta yang saat ini sedang menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak. Menurutnya, banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup sehat dan menjaga kebersihan, imunisasi merupakan cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya penyakit menular tersebut.
Dijelaskan Hari, terdapat lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak, yakni bacille calmette guerin (BCG), polio, campak, difteri pertusis tetanus (DTP), dan hepatitis B. Kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya hemophilus influenzae type B (HIB), pneumokokus (PCV), influenza, measles mumps rubella (MMR), tifoid, hepatitis A, dan varisela. “Imunisasi-imunisasi tersebut harus diberikan dari sejak bayi hingga masa pertumbuhan anak, sesuai dengan jadwal masing-masing,” ujarnya.
Sebaiknya Ditunda
Sebelum anak diimunisasi, ada beberapa kondisi yang harus diketahui orangtua sehingga membuat imunisasi tersebut sebaiknya ditunda. Kondisi tersebut antara lain, saat anak sedang panas tinggi, sedang minum prednison dosis tinggi, sedang mendapat obat steroid, dalam jangka waktu tiga bulan terakhir baru mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin. Intinya si kecil harus dalam kondisi sehat sebelum diimunisasi agar antibodinya (kekebalan) bekerja. “Sebab, imunisasi adalah pemberian virus, bakteri, atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi. Jika anak sakit dimasuki kuman atau virus lain dalam vaksin, maka kerja tubuh menjadi berat dan kekebalannya tidak tinggi,” tambah Hari.
Disarankannya, orangtua diharapkan memberitahukan pada dokter atau petugas imunisasi tentang kondisi anaknya, terutama terkait dengan riwayat penyakit atau alergi. Hal ini penting agar imunisasi yang dilakukan aman bagi anak dan berhasil. Biasanya dokter akan memberi tahu kapan bayi harus diimunisasi lagi pada si ibu. Namun demikian, tak ada salahnya bila ibu sang bayi aktif bertanya, seperti kapan dan imunisasi apa yang harus dilakukan untuk bayinya selanjutnya.
“Ada baiknya tanyakan pula apa reaksinya setelah bayi menerima imunisasi tersebut dan apa yang harus orangtua lakukan,” imbau Hari. Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan berarti ia tidak akan tertular penyakit, seperti jenis penyakit ringan dan tidak terlalu berbahaya.
Umumnya imunisasi yang diberikan akan menimbulkan reaksi samping, atau kejadian lain tapi bukan akibat efek langsung vaksin. Reaksi tersebut dapat berupa efek farmakologis, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. Hal yang paling sering terjadi adalah suhu badan bayi menjadi panas, yang merupakan kewajaran dan orangtua tidak perlu khawatir. Sebab tubuh bayi sedang membentuk sebuah antibodi guna menangkal virus.
Dengan memberikan imunisasi, lanjut Hari, berarti orangtua telah memberikan perlindungan kepada anak terhadap penyakit yang berkaitan dengan imunisasi tersebut. Kalau anak tidak diberikan imunisasi tentu mempunyai efek buruk, yaitu sangat rentan atau mudah terkena berbagai penyakit yang menyebabkan kecacatan hingga kematian. (Ikrob Didik Irawan)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :