Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Hujan Deras, Talut Gajah Putih Ambrol

Rabu, 17/03/2010 09:00 WIB - ina/nun

BANJARSARI—Akibat tak kuat menahan guyuran hujan dan derasnya air sungai, Senin (15/3), talut di Proyek Normalisasi Kali Gajah Putih, ambrol. Kejadian serupa menimpa tembok di Taman Balekambang yang ikut ambruk.
Talut Kali Gajah Putih sepanjang 20 meter tiba-tiba longsor pada pukul 18.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur wilayah Solo sekitar 3 jam lebih. Proyek talut itu sendiri sempat terhenti sekitar enam bulan, lantaran terganjal persoalan dana. Kini warga sekitar talut makin khawatir, sebab lokasi longsor tak jauh dari permukiman warga.
“Kejadian longsornya talut ini terjadi tiba-tiba. Sebelumnya warga sempat merasa khawatir dengan hujan deras yang mengguyur Kota Solo. Apalagi talut sungai Gajah Putih belum selesai dikerjakan,” ungkap Rusdiyanto (40) warga RT 01/ RW III, Kelurahan Sumber kepada wartawan, Selasa (16/3).
Dia menambahkan, sejauh ini warga sudah melihat tanda-tanda akan terjadi longsor, setelah muncul beberapa rekahan tanah. Rekahan tanah terjadi, jelas Rusdiyanto, akibat guyuran hujan yang terus menerus dalam beberapa hari terakhir.
Warga berharap, pihak Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) segera mengambil langkah cepat memperbaiki talut yang ambrol, sekaligus mempercepat penyelesaian proyek normalisasi Gajah Putih.
“Kami segera memperbaiki talut Sungai Gajah Putih. Untuk sementara akan memperbaiki tanggul dengan cara menutup rekahan tanah yang tergerus air sungai, dengan membuat penahan dari bambu. Tujuannya agar rekahan tanah tidak semakin meluas dan mengakibatkan longsor susulan,” ungkap Kepala Bidang Drainase Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Budi Santoso. Budi menambahkan, anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki tanggul ini mencapai Rp 800 juta.
Fondasi Tak Kuat
Sementara itu, pagar tembok pembatas antara lahan Dinas Pertamanan dan Kebersihan (DKP) dengan Taman Balekambang, ambruk sepanjang 50 meter. Ambruknya tembok diakibatkan fondasinya tak mampu menahan gerusan air hujan.
Kepala DPU, Agus Witiyarso yang datang melihat lokasi Selasa (16/3) pagi, mengatakan, kemungkinan kejadian ambruknya pagar Balekambang terjadi pada Senin (15/3) malam lalu. Sebenarnya, bangunan tersebut tergolong bangunan baru. Namun karena tergerus aliran air yang cukup deras, maka fondasinya tak kuat menahan bangunan.
Setelah melihat kondisi lokasi maka ia menyarankan agar pembangunan pagar dibarengkan dengan pembangunan saluran air dari Balekambang blok timur hingga ke arah Kali Pepe. Saluran air itu mempunyai dua fungsi, yakni memperlancar saluran air serta menjadi pemisah antara saluran dan fondasi bangunan. “Saat ini saluran air hanya dari tanah. Maka wajar jika aliran airnya menggerus fondasi bangunan,” kata Agus, Selasa (16/3).
Namun ia belum bisa memperkirakan dana yang dibutuhkan untuk pembangunannya. “Kami perlu mendesain dulu bagaimana bentuk saluran. Jika tembok pagar yang runtuh, hanya memerlukan dana sekitar Rp 25 juta,” jelasnya. (ina/nun)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :