Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Hati-hati Kejang Akibat Demam

Rabu, 17/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Sebagai orangtua, tanggap terhadap perkembangan buah hati adalah suatu keharusan. Terutama terkait dengan pertumbuhan fisik apalagi jika sang anak sedang sakit. Berbagai macam penyakit saat ini rentan diderita oleh anak-anak. Seperti pada anak usia 5 bulan sampai 5 tahun yang sering kali mengalami demam yang disertai kejang.
Demam yang terjadi pada anak bisa disebabkan karena lemahnya daya tahan tubuh atau karena perubahan suhu yang terlalu cepat. Jika yang terjadi hanya demam saja barangkali tidak terlalu merisaukan orangtua, tapi jika disertai dengan kejang, hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan serius.
Kejang bisa diartikan sebagai reaksi berlebihan ketika mengalami demam. Reaksi berlebihan tersebut adalah gerakan berlebihan pada lengan dan kakinya. Di sekujur tubuhnya juga bisa mengalami kekakuan yang luar biasa. Bahkan pada sebagian anak yang mengalami kejang, bisa hilang kesadarannya. Sehingga untuk bisa sedini mungkin menangani kejang demam pada anak, setidaknya orangtua harus mengenali jenis-jenis kejang.
“Kejang pada anak bisa dibagi menjadi dua, yaitu kejang yang terjadi di otak (intra cerebral) yaitu terjadi kejang yang diikuti dengan gangguan kesadaran. Serta kejang di luar otak (ekstra cerebral) yaitu terjadi kejang namun tidak diikuti dengan gangguan kesadaran,” ujar dr Fauzia Arih Nurindirani SpA, spesialis anak dari Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Kustati Surakarta.
Secara sederhana, demam adalah kenaikan suhu tubuh di atas normal meskipun tak semua kenaikan suhu tubuh disebut sebagai demam. Kenaikan suhu tubuh merupakan bagian dari reaksi biologis kompleks, yang diatur dan dikontrol oleh susunan syaraf pusat. Demam sendiri merupakan gambaran karakteristik dari kenaikan suhu karena berbagai penyakit infeksi dan noninfeksi, sehingga perlu dibedakan dari kenaikan suhu akibat stres dan penyakit demam.
“Kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam. Kejang yang disertai dengan demam biasanya terjadi karena infeksi, gangguan metabolik, atau karena trauma,” kata Fauzia.
Kontraksi Otot
Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36,5 hingga 37,5 derajat celcius. Seorang anak dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya melebihi angka itu. Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, anak terancam terkena retardasi (perlambatan pertumbuhan) mental.
Setiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang masing-masing. Sehingga sebelum demam semakin tinggi, sebaiknya orangtua segera memberi obat penurun panas pada anaknya. “Dengan penanganan yang tepat dan segera akan menghindarkan terjadinya kejang, sebab jika suhu panas semakin tinggi anak berpotensi terserang kejang,” paparnya.
Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun dan selalu timbul bila anak mengalami demam tinggi. Biasanya suhu tubuh meningkat dengan cepat mencapai 39 derajat celcius atau lebih.
Bagi orangtua yang anaknya sering mengalami kejang, Fauzia menyarankan, agar selalu siap sedia termometer dan obat penurun panas di rumah. Agar orangtua selalu dapat memantau suhu tubuh anaknya, jika sewaktu-waktu anak mengalami demam dapat segera diketahui dan ditangani.
“Jika anak baru pertama kali mengalami kejang, segera hubungi dokter. Sedangkan bila anak sebelumnya pernah mengalami kejang, hubungi dokter bila kejang terjadi lebih dari lima menit, atau bila kejang yang timbul lain dari kejang yang biasanya timbul,” imbaunya.
Selain itu, saat anak mengalami kejang, agar memasukkan benda tertentu yang aman ke dalam mulut anak seperti sendok atau jari tangan orangtua. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari lidah tidak tergigit serta agar jalan napas tetap terbuka. “Akibat kejang bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal. Bahkan pada beberapa kasus, kejang yang tak segera ditangani tak jarang menimbulkan kematian pada anak,” pungkasnya.
(Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :