SUKOHARJO—Kapolres Sukoharjo AKBP Suharyono mengumumkan hasil tes psikologis terhadap Yulianto. Berdasarkan hasil tes Yulianto dinyatakan normal. Untuk itu, saat menghabisi para korban Yulianto dalam kondisi sadar.
Menurut Kapolres, ada tiga faktor yang mendasari Yulianto berbuat senekat itu yaitu faktor pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Katanya, ketiga faktor itu yang dialami Yulianto sampai tega menghabisi korbannya. Karena pendidikan rendah, hal itu berpengaruh pada dirinya yaitu selalu tidak berpikir jauh apa yang terjadi ketika membunuh orang. Kemudian ekonomi karena miskin ingin segera kaya sehingga berpikiran ingin menguasai harta milik orang lain. Selain itu, muncul niat membunuh dan terakhir sosial karena semuanya keluarganya kaya, sedang Yulianyo miskin.
Ia sehingga merasa malu dan ingin menunjukkan eksistensinya dengan berbagai cara seperti pintar mengobati dan lain sebagainya. ”Jadi profesinya ada yang mengatakan pintar memijat, mengobati orang itu hanya dijadikan kedok saja untuk mewujudkan cita-citanya,” tandas Kapolres, Selasa (7/9).
Untuk itu, pemeriksaan Yulianto belum mengarah pada klenik tapi memang kejiwaan Yulianto sangat labil dan responsif ketika merasa terdesak.
Penyidik Reskrim Polres Sukoharjo, masih melakukan pengusutan untuk mengembangkan kasusnya. Selasa (7/9). Penyidik juga memeriksa pengusaha asal Solo, Hardono. Ia diperiksa sebagai saksi terkait tewasnya Siti Rusmini di rumahnya Jalan MT Haryono No 9, Manahan, Solo.
”Pemanggilan Hardono sudah direncanakan sebelumnya untuk dimintai keterangan seputar pembunuhan Siti Rusmini,” ujar Kapolres, Selasa (7/9).
Katanya, dengan pemeriksaan ini setidaknya polisi bisa mengetahui akar persoalan sebelum dan sesudah korban meninggal dunia. Menurutnya, Hardono sebagai orang yang mengetahui kronologi di TKP sebelum Siti Rusmini, tewas.
Berdasarkan pengakuan Yulianto, ia menghabisi korban dengan cara memberikan air kecubung, tapi apakah lantas setelah minum meninggal dunia atau diapakan dulu belum diketahui. ”Yang jelas ada pendarahan pada tubuh korban saat meninggal. Apakah itu darah akibat disetubuhi Yulianto atau memang darah dari menstruasi korban. Saat ini masih dalam penyidikan polisi,” jelasnya.
Oleh karena itu, jika saksi Hardono bisa dimintai keterangan setidaknya pertanyaan seperti kondisi mayat terakhir apakah ada tanda yang mencurigakan, siapa yang memandikan mayat, siapa yang menjadi dokter hingga muncul dugaan sakit jantung itu belum terjawab hingga saat ini. ”Dengan hadirnya saksi bisa menjawab akan hal tersebut,” tandas Kapolres.
Dikatakan Kapolres masih banyak hal pertanyaan yang harus dijawab saksi sehingga polisi berharap saksi berperan pro aktif dan terbuka demi kelancaran penyelesaian kasus ini hingga tuntas. ”Bisa dimungkinkan juga kalau saksi bisa menjadi tersangka. Pasalnya, pernah terjadi pembunuhan di rumahnya tapi tidak melaporkan pada polisi dan itu bisa terkena hukum pidana.”
Terpisah, saat dihubungi Joglosemar, Hardono membantah telah dipanggil untuk diperiksa. Pemeriksaan yang sedianya dijadwalkan ditunda karena berbenturan dengan kegiatannya. “Saya belum jadi diperiksa, karena yang mau memeriksa saya tadi ada acara dan saya juga acara pembubaran panitia buka bersama dengan walikota.” (mal/qds)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







