SOLO—Permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi atau Pertamax mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan permintaan tersebut dikarenakan harganya yang membumbung tinggi. Akibatnya konsumen mulai beralih ke BBM bersubsidi atau Premium. Ada juga konsumen yang memilih untuk mencampur Pertamax dengan Premium.
Pengawas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SBPU) Lor Beteng, Pasar Kliwon Moch Danang Romi Wijaya mengatakan, sejak tanggal 16 Maret lalu, permintaan Pertamax di SPBU-nya sangat sepi. “Sejak harga Pertamax di angka Rp 8.900, banyak konsumen yang mengeluh kok harga Pertamax dua kali lipatnya Premium. Sehingga banyak yang beralih ke Premium atau mengoplos (mencampur-red) antara Premium dan Pertamax,” terang Danang saat ditemui di kantornya, Rabu (23/3).
Lanjutnya, bahkan ada konsumen Pertamax yang mengaku memiliki zat aktif yang bisa digunakan untuk menaikkan oktan. “Sehingga mereka lebih memilih untuk beralih ke Premium, lalu diberi zat penambah oktan tersebut. Kalau untuk nama zatnya saya kurang tahu karena memang bukan produk Pertamina,” imbuh Danang.
Dalam per hari, SBPU Lor Beteng hanya mampu menjual 200 liter Pertamax. Padahal, sebelum harga mencapai Rp 8.900, permintaan Pertamax bisa mencapai 400 hingga 500 liter per hari. “Di bulan Januari dan Februari itu cenderung stabil yaitu di angka 400 hingga 500 liter per hari. Memasuki Bulan Maret yaitu tanggal 1 hingga 15 Maret penjualan antara 300 hingga 400 liter per hari,” ujarnya.
Sedangkan untuk konsumsi Premium sendiri, di SPBU Lor Beteng mengalami peningkatan. “Karena Premium itu harganya tetap yaitu Rp 4.500, sehingga dalam sehari penjualannya 16.000 liter per harinya,” kata Danang.
Hal senada juga dialami oleh SPBU Bhayangkara. Di tempat itu, selama Pertamax tembus di level Rp 8.900, permintaan Pertamax turun drastis. Dari yang sebelumnya, permintaan Pertamax mencapai 1.500 liter per hari, kini tinggal 900 liter per hari. “Ini karena faktor harga yang terus melambung,” kata Pengawas SPBU Bhayangkara, Gunawan.
Ia berharap, harga minyak dunia segera stabil. Sehingga harga Pertamax tidak lagi meroket. “Otomatis mempengaruhi pemasukan dari SPBU, inginnya harga Pertamax turun, sehingga konsumen Pertamax bisa bertahan atau malah bisa bertambah banyak,” ujar Gunawan. n Dwi Hastuti
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




