BOYOLALI—Kali ini, nasib baik berpihak pada petani tembakau di lereng Merapi. Pasalnya, selain ditundanya draf RUU Tembakau, hujan mulai jarang dan harga jual tembakau juga lagi naik.
“RUU itu kan membatasi petani, sehingga pendapatan bisa berkurang,” ungkap Suparno, petani tembakau warga Selo Tengah, Desa Selo, Kecamatan Selo, Selasa (26/7).
Suparno mengatakan, saat ini harga tembakau rajang cukup tinggi. Dia mencontohkan, untuk daun tembakau yang paling bawah harganya bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram. Sementara daun di atasnya lebih mahal karena kualitasnya lebih baik dan lebih lebar.
Cuaca kemarau juga otomatis memangkas biaya pengeringan. Suparno berharap banyak pada kebun seluas seperempat hektare miliknya yang ditanami tembakau.
“Insya Allah awal Agustus bisa panen. Mumpung harganya bagus, lumayan bisa berlebaran tahun ini,” katanya.
Kepala Desa Selo, Sudarto pun berharap, saat musim panen nanti tidak turun hujan supaya kualitas pengeringan tembakau bisa maksimal. Andai turun hujan, kualitas tembakau bisa turun, begitu pula harganya.
“Selain kualitasnya turun, proses penjemuran juga mahal karena harus dijemur di dataran rendah, sehingga ongkos transportasinya tinggi,” terang dia.
Panen tahun ini menurut Sudarto merupakan panen perdana setelah bencana Merapi lalu. Apalagi pada tahun sebelumnya, saat panen tembakau kondisi Merapi selalu mendung dan hujan, sehingga harga tembakau saat itu terpuruk.
Di sisi lain, Sudarto meminta para petani tembakau tidak nakal dan menjaga kualitas tembakau. Pasalnya sudah menjadi rahasia umum, para petani yang nakal sering mencampuri rajangan tembakau dengan gula, untuk menambah berat tembakau.
Ario Bhawono
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




