KLATEN—Puluhan petani cabai di Klaten mengeluhkan anjloknya harga cabai, yang mengakibatkan kerugian. Anjloknya harga cabai dirasakan petani setelah Lebaran 2011 kemarin.
Jika sebelumnya harga cabai di tingkat petani sekitar Rp 10.000 per kilogram, kini hanya Rp 4.000 per kilogram. “Kami terpaksa mengikuti harga yang ditetapkan para pedagang pengumpul yang memang cukup rendah,” ujar Badrun (35) petani cabai asal Desa Knaiban, Kecamatan Juwiring, Klaten saat ditemui di lahan miliknya, Senin (12/9).
Anjloknya harga cabai pasca-Lebaran menurut Badrun, disebabkan oleh banyaknya produksi cabai dari seluruh petani di Klaten. “Mungkin para pedagang pengumpul ini mematok harga rendah agar tidak ikut merugi,” tuturnya.
Badrun mengatakan, meruginya hasil panen mereka ini lantaran tak sebanding dengan tingginya ongkos produksi. Untuk satu batang pohon cabai saja ia butuh biaya pembibitan sekitar Rp 3.000. Terhitung dari mulai tanam hingga panen dengan jumlah bibit 12.000 pohon untuk lahan 1,5 hektare.
Itu masih ditambah biaya lain seperti ongkos petani pemetik Rp 8.000 per orang untuk jangka waktu dua jam. “Ada juga biaya tambahan untuk pemupukan selama masa tanam dua hingga tiga bulan,” imbuh Badrun.
Kondisi serupa juga dialami sejumlah petani cabai lainnya di Kecamatan Juwiring. Mereka terpaksa menanam cabai, karena tanaman padi miliknya diserang hama wereng sejak dua tahun terakhir.
“Daripada lahan sawah di-berokan, mendingan kami tanami cabai atau jagung untuk memenuhi kebutuhan hidup saat panen,” ujar Tarjo, petani cabai lainnya.
William Adiputra JT
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




