Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Hantaran untuk Enteng Jodoh

Minggu, 21/03/2010 09:00 WIB - Rani Setianingrum

Kesulitan mencari jodoh, ternyata juga dirasakan para muda-mudi Tionghoa. Mereka pun mempunyai tradisi unik agar dimudahkan menemukan jodohnya atau biasa disebut enteng jodoh.
Umumnya, tradisi ini dijalankan kaum pemuda Tionghoa. Agar enteng jodoh, mereka menyiapkan barang-barang hantaran. Syaratnya jumlahnya harus genap dengan jumlah maksimal 12 nampan. ”Hantaran ini haru dibawa sendiri oleh pemuda lajang,” kata Adjie Chandra, tokoh masyarakat Tionghoa Solo.
Kendati demikian, dari barang-barang hantaran yang disiapkan pemuda Tionghoa boleh memilah-milah, hal ini terkait dengan budaya adat setempat. Seperti tidak biasa menyajikan arak atau daging babi.
Hantaran itu nyaris sama seperti maskawin. Isinya, di antaranya, uang lamaran, perhiasan, dua botol arak, paha babi, dua pasang lilin perkawinan bermotif naga dan burung phoenix, kue pia yang tersusun rapi, permen, manisan, pakaian, parfum, aneka kue dan lain-lain.
Hantaran tersebut sebagai simbol ungkapan terima kasih kepada ibu pengantin wanita yang telah membesarkan anak gadisnya. Namun, umumnya hantaran tersebut tidak langsung diambil, karena sebagai ciri sang ibu gadis tidak memilki pamrih. ”Bukan hanya pihak pria yang membuat hantaran, pihak gadis ada juga yang membuat sebagai balas hantaran,” tuturnya.
Apa isi hantaran yang dibuat pihak wanita? Tak jauh beda dari kebutuhan kaum pria, yakni baju, sepatu, ikat pinggang, dan barang lainnya. Hantaran terkadang juga menjadi simbol legitimasi status sosial ekonomi para calon mempelai. (Rani Setianingrum)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :