Salah satu tugas manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk menjaga keselamatan negara. Salah satu kewajiban Tri Satya Brata yang terkandung dalam dalam filosofi Hamemayu Hayuning Bawana adalah darmaning manungsa mahanani rahayuning negara (tugas hidup manusia adalah menjaga keselamatan negara). Artinya, manusia hidup di dunia ini mempunyai tugas yaitu hamangku negara. Sama halnya dengan yang ada pada agama, manusia diciptakan bertugas sebagai kholifah fil ardz (pemimpin di dunia).
Dalam praktiknya, agar tugas hamangku negara dapat berjalan dengan baik, maka dibentuklah sebuah negara lengkap dengan pemerintahannya. Pemegang pemerintahan tidaklah sembarang orang. Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang dipercaya mempunyai kemampuan untuk melaksanakan amanah dengan baik. Selain itu, dirinya juga bukan pengkhianat. Dengan begitu, harapannya akan terwujud negara yang gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem, karta raharja.
Kendati demikian, saat kita membuka lembaran media informasi terkini, di negara Indonesia masih jauh dari harapan mulia tersebut. Sudah lebih dari sepuluh tahun negara ini menderita krisis moneter, berbagai upaya penyembuhan dilakukan namun juga hasilnya nihil. Sementara negara yang (katanya) tanahnya merupakan berbau surga, karena kesuburannya, dengan sumber daya alam (SDA) melimpah, namun kondisinya semakin hari semakin melarat. Busung lapar, kemiskinan, anak putus sekolah terjadi di mana-mana.
Sementara pemerintahan juga tak dapat berpikir jernih dalam mengurusi warganya. Mereka disibukkan dengan beragam masalah yang tak pernah ada ujung pangkalnya. Saat ini saja misalnya, selain dihadapkan permasalahan kasus Antasari Azhar yang mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dituduh melakukan pembunuhan, negara juga dihadapkan pada kasus Bank Century yang melibatkan Menteri Perekonomian Sri Mulyani dan Wakil Presiden Budiono. Belum lagi kasus-kasus lain yang dianggap remeh semisal Ujian Nasional, ketiadaan pupuk untuk petani dan lain sebagainya. Semua dianggap selesai dan terlupakan sebab adanya kasus baru.
Kondisi betapa muramnya perjalanan pemerintahan Negara Indonesia mutakhir ini menunjukkan betapa orang-orang yang ada di pemerintahan tak dapat bekerja dengan baik. Mereka tidak bisa mengemban amanah rakyat dan malah mengkhianatinya. Sehingga tujuan manusia hidup di dunia yang ditugaskan untuk hamangku negara pun mengalami kegagalan.
Grebeg Sekaten
Upacara tradisional yang diajarkan para pendahulu di tanah Jawa selalu mengandung unsur pelajaran, tak terkecuali dalam acara Sekaten. Bagi publik, selama ini Sekaten hanya dimengerti sebagai upaya Sunan Kalijaga mendakwahkan ajaran agama Islam kepada penduduk setempat. Padahal jika ditilik secara mendalam, banyak pelajaran yang dapat diambil dari adanya perayaan upacara Sekaten. Bahkan dalam ritual Sekaten juga mengajarkan manusia dalam menata negara.
Lihatlah betapa prosesi Sekaten sangat rumit dan komplit. Pun begitu dalam pelaksanaannya, dapat berjalan dengan baik dan terasa nikmat. Apalagi dalam pelaksanaan upacara grebeg, mempunyai daya tarik tersendiri dengan peranti yang beragam. Semuanya mengandung makna tersendiri. Misalnya dalam upacara Grebeg Maulud terdapat 30 buah gunungan. Dari keseluruhannya terdiri dari 10 Gunungan Lanang, empat Gunungan Wadon, empat Gunungan Paiyulen, empat Gunungan Darat dan delapan Gunungan Gepak.
Dalam pembuatannya, setiap nama gunungan memiliki filosofi yang berbeda pula. Namun demikian dari keseluruhan gunungan tersebut dibuat semenarik mungkin, baik dilihat dari kejauhan maupun dari dekat. Bahkan saat seseorang dapat meraih dan mendapat bagian dari gunungan tersebut, akan merasa bahagia, karena gunungan tersebut berupa makanan yang apabila dimakan dipercaya mempunyai berkah.
Di samping gunungan, juga ada satu kesatuan kesaksian berupa gending-gending yang menjadi celupan syahadatain. Dalam Risalah Sekaten, tahun wawu 1889/1957, halaman 11, komposisi gending ada 16, yaitu Rambu, Rangkung, Lung Gadhungpel, Atur-atur, Andhong-andhong, Rendheng-rendheng, Gliyung, Yaume, Salatan, Dendhang Subinah, Burung Putih, Orang-aring, Ngayatun, Sapi-Yatun, Bayem, dan Srundeng Gosong.
Di sini gunungan dan gending mempunyai makna tersendiri. Gunungan mengejawantahkan dari kesaksian visual, dan gending merupakan bentuk pengejawantahan kesaksian auditif. Dan pada akhirnya keduanya harus menyatu dan menjadi kesaksian di dalam kalbu (keyakinan di dalam hati).
Dengan demikian, gending-gending tadi dan gunungan itu, memperingatkan kita bahwa syahadat itu tidak hanya bersifat verbalis, tetapi disertai keindahan rasa dan kehidupan kalbu. Gemanya merdu didengar serta dipandang. Bukan saja dari jarak jauh sebagi Sri Gunung, bahkan ketika dekat dan makin dekat, sebagai Sri Taman. Kita masih bisa menikmati indahnya perebutan berkat gunungan, hajat ndalem, semata-mata karena keikhlasan. (Purwadi: 2005). Dan inilah ajaran yang terdapat dalam Sekaten. Jika saja para punggawa negara ini menjadikan upacara sakral ini tidak sekadar rutinitas, namun juga sebagai kaca benggala dalam kinerjanya dipastikan dalam menjalankan tugas hamengku negara akan dapat berjalan dengan baik.
Menjadikan upacara grebeg dalam Sekaten sebagai kaca benggala berarti mengejawantahkan simbol-simbol yang ada dalam melaksanakan tugasnya mengemban amanah rakyat. Artinya, para pengemban kuasa negara mestinya bisa bekerja dengan baik, nyaman dipandang baik dari jauh dan dekat serta dapat dirasakan manfaatnya hingga masyarakat yang paling pelosok atau yang jarang dijamah pemerintah.
Dalam melaksanakannya sebenarnya pemerintah kita sangat bisa. Dengan membuat program yang baik dan dilaksanakan dengan baik, tanpa adanya penyelewengan dipastikan akan berhasil. Ketidakberhasilan pemerintah dalam melaksanakan tugasnya hamangku negara saat ini disebabkan adanya orang-orang yang tidak serius dalam mengemban tugasnya. Di samping itu juga, dalam pengerjaannya tidak ikhlas dan tidak berorientasi sebagai wahana pengabdian, perilaku-perilaku setan semisal bertindak korupsi menjadi tradisi. Dan jika kondisi semacam ini tak dapat dihentikan, adanya perayaan Sekaten juga upacara-upacara semacam yang sebenarnya memiliki nilai filosofi luhur hanya menjadi rutinitas belaka, tanpa atsar. Dan kita tentu tidak menginginkannya kan?. Wallahu a’lam
Peminat Budaya Jawa,
Koordinator LP2M Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







