Melangkahkan kaki di rumah yang terletak di Jalan Padjajaran Barat I No 40 Sumber, Solo tersebut laksana berada di alam yang begitu luas. Pepohonan yang rindang, rumput-rumput yang tumbuh subur di halaman, membuat rumah yang berdiri di atas lahan 300 meter persegi tersebut terlihat alami dan terasa kesegarannya.
Meski rumah tersebut berada tidak jauh dari pusat kota, namun panasnya udara Kota Solo pun tak terasa. Udara segar terasa dengan kehadiran berbagai macam tanaman yang mengelilingi rumah Rachmadi Nugroho.
Rasa sejuk, rindang pun terasa sesaat setelah Joglosemar berada di teras rumah yang menghadap ke timur tersebut. Ditambah adanya suara gemericik air di kolam ikan yang berada di halaman depan. Semakin menguatkan nuansa alam nan segar.
Rumah yang dibangun pada tahun 1993 tersebut mengusung konsep natural atau kembali ke alam. Alasan pemilik rumah memilih konsep tersebut lantaran dirinya ingin menghadirkan nuansa-nuansa pedesaan di dalam rumahnya.
“Awalnya saya terinsipirasi rumah-rumah yang ada di desa. Lalu saya mencoba mengembangkan dengan membuat desain rumah sendiri,” terang Rachmadi saat ditemui Joglosemar di rumahnya, Selasa, (16/2).
Nuansa back to nature telah terlihat dari bagian rumah yang dirancang sendiri tersebut menggunakan pagar yang terbuat dari batu besar-besar yang disusun dan tanpa diplaster. Sehingga khas batunya pun dapat terlihat jelas.
Lalu taman di depan rumahnya pun struktur tanahnya dibuat lebih tinggi jika dibandingkan dengan lantai rumahnya. Dikarenakan, bagian ruang keluarga memiliki pintu yang tembus ke taman, sehingga kalau pintu tersebut dibuka dari luar tidak kelihatan karena taman dibuat lebih tinggi.
“Sehingga kalau kami sekeluarga baru nyantai di ruang keluarga sambil melihat televisi dan pintu dibuka supaya udara nyaman maka tidak kelihatan dari depan,” urai suami dari Suhartati tersebut.
Bagian dalam rumah pun juga terkesan natural karena selain menggunakan batu bata ekspos, berbagai perabot rumahnya pun juga terlihat alami. Mulai dari kursi kayu, lalu kursi yang terbuat dari enceng gondok, lukisan wayang. Di rumah tersebut terdapat pernak-pernik batangan bambu kecil-kecil yang disandarkan di dinding dengan material bangunan batu bata ekspos.
“Kami dari keluarga hanya ingin menghadirkan rumah yang mengingatkan saat berada di desa. Jadi ornamen yang saya gunakan juga harus sesuai dengan jenis rumahnya. Mulai dari cat dinding, lantai, perabot yang digunakan serta hiasan-hiasan dinding juga harus sesuai,” paparnya.
Mengenai pemanfaatannya, lantai satu dimaksimalkan untuk kepentingan keluarga. Misalnya untuk kamar utama, kamar anak, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, dapur serta kamar mandi.
Sedang untuk lantai dua, dimanfaatkan untuk musala, ruang kerja serta ruang tidur tamu. Untuk melangkahkan kaki ke lantai dua, maka kita akan melewati tangga yang lantainya terbuat dari kayu.
Mudah Dirawat
Sudah menjadi harapan kebanyakan orang, bahwa rumah itu harus mudah ditata dan dirawat. Sehingga pemilik rumah pun tidak mengalami kesulitan dalam menata sesuatu serta untuk melakukan perawatan.
Ternyata rumah milik suami istri antara Rachmadi dan Suhartati ini juga memiliki keunggulan yaitu mudah ditata dan dirawat. Sehingga hal tersebut tidak membuat sang pemilik rumah pusing tujuh keliling untuk menata rumahnya.
Bahkan ketika ada hajatan di rumah seperti pengajian, arisan , atau perkumpulan RT maka tinggal membuang rono (sekat) antara ruang tamu dengan ruang keluarga saja. “Saya sengaja hanya membuat sekat berupa rono antara ruang tamu dan keluarga. Supaya kalau punya hajat rumah tersebut muat untuk banyak orang,” terang Rachmadi
“Untuk perawatan juga mudah, tinggal menyapu atau mengelap saja semua sudah beres,” tandasnya. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







