Kelompok suporter bola yang menjadi pendukung tim asal Surabaya, Persebaya kembali berulah. Ribuan Bonek (bondho nekat) –sebutan mereka- melakukan tindakan anarkis sepanjang perjalanan dari Surabaya-Bandung, Jumat (22/1). Mulai dari melempari rumah warga, menumpang kereta api tanpa membayar, menjarah dagangan milik pedagang, bentrok dengan warga yang dilewati hingga melakukan pengeroyokan terhadap wartawan dan polisi.
Kejadian ini makin menambah panjang daftar keributan yang mereka lakukan di kancah persepakbolaan nasional. Jumlah tindakan anarkis yang dilakukan Bonek seakan sudah tak terhitung di setiap kali mereka memberikan dukungan bagi tim kebanggaannya. Maka tak bisa disalahkan manakala muncul stigma di masyarakat, bahwa Bonek adalah kekerasan dan keributan.
Istilah Bonek muncul sekitar tahun 1980-an ke atas. Sebutan Bonek memang lebih lekat kepada mereka meski sebenarnya sudah ada nama kelompok resmi pendukung kesebelasan Persebaya, yakni Yayasan Suporter Surabaya (YSS). Mengapa sebutan lebih dekat dengan mereka, karena itu menggambarkan fenomena ulah para suporter tersebut.
Sebenarnya patut diacungi jempol keberanian dan fanatisme para Bonek ini. Mereka menjadi aset yang sangat berharga dalam sebuah tim sepakbola. Apalagi, secara tradisional, Bonek adalah kelompok suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan suporter tandang mengiringi tim away ke kandang lawan. Suporter away merupakan hal yang langka di tahun-tahun 1980-an, tapi Bonek berani melakukan terobosan.
Hanya persoalannya kemudian, keberanian Bonek itu tak bisa dikendalikan. Mereka hanya mengandalkan keberanian semata. Maka setiap kali Bonek melakukan away ke kandang lawan, yang terjadi adalah keributan di jalan, aksi anarkistis, perkelahian dengan suporter lawan dan bentuk kekerasan yang lain.
Mengapa kekerasan dan perilaku radikal tak bisa lepas dari Bonek, padahal mereka telah berganti-ganti generasi. Bahkan para pecinta bola yang pada era tahun 1980-an sampai 1990-an belum lahir atau tak pernah bersentuhan langsung dengan suporter bola, kini telah menjelma sebagai generasi baru Bonek, termasuk meneruskan tradisi kekerasan dan radikalisme.
Ini memang cukup memprihatinkan. Apakah ini bisa dibilang sebagai bentuk kesuksesan dalam proses regenerasi dalam sebuah kelompok/komunitas? Mengapa yang diwarisi adalah tradisi nekat dengan keributan dan kekerasan yang melingkupi. Modus keributan yang dilakukan generasi penerus Bonek masih sama, seperti menjarah dagangan, tidak membayar tiket kereta api, berkelahi dengan suporter lawan, membuat kekisruhan di sepanjang perjalanan dan seterusnya. Transformasi kekerasan sukses dibangun Bonek dari generasi ke generasi.
Salahkah bila lantas muncul pertanyaan bernada kekhawatiran, apakah Bonek memang sengaja dibiarkan dengan karakteristik perilakunya selama ini. Mungkinkah kelompok Bonek ini sengaja dirawat agar bisa menjadi katarsis masyarakat pinggiran? Oleh karena tak bisa dipungkiri, perilaku kekerasan Bonek sebagian besar dilakukan oleh mereka yang berasal dari kaum marginal dan pinggiran.
Mereka akan memiliki kelegaan emosional dengan perilakunya lewat kelompok Bonek, sehingga bisa menghindarkan tindakan kriminal. Kalau Bonek dan perilakunya dibabat habis, bisa jadi muncul kekhawatiran perilaku kriminalitas akan meningkat. Tapi kesampingkan saja kemungkinan ini, karena ini hanyalah bentuk kekhawatiran yang masih harus diuji kesahihannya. Dukung suporter Indonesia, tolak kekerasan! (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






