Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Gaung Luntur, SBC Lima Jaring Pelajar Berbakat

Senin, 06/02/2012 06:00 WIB - Tri Sulistiyani

BANJARSARI—Event Solo Batik Carnival (SBC) diakui semakin luntur gaungnya. Untuk itu, dalam gelaran yang kelima ini, SBC menjaring para pelajar berbakat untuk menjadi pesertanya.
Untuk SBC kelima ini, panitia menargetkan jumlah peserta 500 orang. Instruktur SBC yang didatangkan khusus dari Jember Fashion Festival (JFF), Dinan Fariz, mengatakan, gaung SBC saat ini semakin luntur.
Dia khawatir, SBC hanya akan menjadi event tahunan yang tidak bermakna. ”Coba kita ingat saat SBC I, setiap media memuat dan selalu di halaman pertama. Sekarang gaungnya semakin luntur,” kata katanya kepada wartawan di Rumah Dinas Wakil Walikota Solo, Miinggu (5/2).
Menurutnya, penyebab lunturnya gaung SBC, karena semakin lunturnya kreativitas para peserta yang saat ini hanya menampilkan kostum, tanpa sentuhan kreativitas. ”Maka kita akan kembalikan SBC kelima ini kembali menjadi ajang kreativitas masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, upaya penjaringan pelajar berbakat itu antara lain dengan mengundang sekolah-sekolah untuk mengrimkan pelajar serta guru pendampingnya untuk diseleksi menjadi peserta SBC Kelima.
Ketua Yayasan SBC, Totok S, mengatakan, selama ini SBC sudah kehilangan rohnya. Oleh karena itu, SBC akan dikembalikan seperti SBC Pertama. ”Hari ini kita mengundang sekitar 60 sekolah di Solo serta beberapa alumnus SBC untuk mengikuti workshop perdana,” katanya.
Ditargetkan jumlah peserta SBC 5 ini nantinya mencapai 500 peserta. Semuanya diharapkan bisa ikut. ”Selama ini memang di awal pesertanya mencapai 500, tetapi berguguran dan pada saat penyelenggaraan hanya tingga 200 – 300 peserta saja,” katanya.
Dia menduga, mundurnya peserta karena terkendala dengan kostum. Karena mereka tidak memiliki pendamping dan kekurangan dana. Untuk SBC kelima ini, setiap peserta diwajibkan membuat sendiri kostumnya.
Peserta yang merupakan delegasi dari sekolah diwajibkan memiliki guru pendamping yang akan mendampingi dari proses awal hingga akhir. ”Ini makanya guru-guru juga kita undang di workshop-nya,” ujarnya.
Kendati demikian, meskipun peserta yang dibidik adalah pelajar, tetapi SBC kelima tetap menerima peserta dari kalangan umum. ”Tetapi tentunya mereka tidak boleh hanya mengandalkan dana yang besar. Harus membuat sendiri kostumnya,” katanya.

Tri Sulistiyani

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :