Menjelang Idul Fitri ini seperti tahun-tahun sebelumnya kita saksikan rutinitas keramaian pembeli di toko pakaian, makanan dan elektronik. Masyarakat berbondong bondong ingin memperbaharui barangnya. Lebih menarik lagi di pinggir jalan strategis banyak penjual “tukar uang” yang menawarkan jasa penukaran uang kecil. Sungguh aneh ketika seseorang mau menukarkan uang lama yang kelihatan lusuh dengan uang baru (terlihat masih rapi) yang nilai akhirnya lebih kecil, yang mana ini bertentangan dengan konsep ekonomi bahwa uang sebagai alat transaksi.
Lucu lagi uang baru itu yang mungkin diperoleh dengan susah payah, nanti akan diberikan kepada famili-familinya sebagai hadiah. Lalu pertanyaannya, manfaat apa yang diperoleh orang tersebut dengan uang baru kalau nanti hanya diberikan kepada orang lain?
Inilah fenomena Idul Fitri di mana masyarakat ingin membeli barang-barang baru, baik untuk dikonsumsi pribadi maupun diberikan kepada orang lain. Hal inilah yang penulis sebut sebagai fitrial buying. Barang tersebut dibeli bukan semata karena fungsinya, namun karena memiliki kegunaan waktu (time utility). Yaitu mereka ingin terlihat “baru” di hari kemenangan tersebut. Padahal kalau kita tanyakan kepada mereka kondisi barang lama yang kemudian diperbarui sebagai misal baju-bajunya, maka cenderung akan dijawab pakaian lamanya masih relatif bagus-bagus atau paling tidak masih layak pakai.
Hal ini kita bisa pahami karena pembelian selain dipengaruhi oleh faktor internal seperti sikap, motivasi dan gaya hidup, juga dipengaruhi faktor eksternal yaitu sosial budaya (Stanton, 1995). Ajaran Islam mengatakan bahwa orang mukmin yang melakukan puasa dengan sungguh-sungguh maka akan membentuk pribadi bertakwa sehingga mencapai kemenangan menjadi manusia yang bersih (fitri). Insan fitri mempunyai jiwa suci yang jauh dari pikiran dan perilaku kotor. Namun Fitri ini kemudian diartikulasikan secara fisik, yaitu kondisi bersih yang disimbolkan dengan barang-barang baru. Dalam konteks berpakaian memang ketika melakukan salat Idul Fitri orang muslim disunahkan memakai baju-baju yang terbaik namun tidak berarti diartikan baju yang baru. Sampai pemikiran ini kita menyadari bahwa terjadi asimilasi simbol budaya ke dalam makna fitri. Simbol-simbol ini juga terlihat pada upaya selikuran di Solo di mana disebarkan 1.000 tumpeng pada malam 21 Ramadan sebagai tanda bahwa Allah akan melipatkan pahala setara dengan 1.000 bulan untuk ibadah-ibadah yang dilakukan pada bulan mulia itu.
Gerakan Ekonomi
Fitrial buying tentu membawa berkah. Empat bulan sebelum Ramadan terasa perekonomian agak lesu karena masyarakat berkonsentrasi pada pemenuhan biaya sekolah. Sedangkan anggaran proyek-proyek pemerintah relatif belum cair. Alhasil geliat transaksi sektor real selama Ramadan mengobati kegersangan aktivitas bisnis. Pembelian makanan, tekstil, pakaian, material bangunan, otomotif serta produk ikutannya terlihat bergerak naik. Kondisi ini didukung instruksi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar agar Tunjangan Hari Raya (THR) diberikan pada H minus 7 yang diperkirakan menjadi stimulus sendiri untuk mendongkrak perekonomian.
Momentum yang penting lagi adalah mudik Lebaran, yaitu sekitar sepekan sebelum dan setelah Idul Fitri. Berjuta-juta orang akan kembali ke kota atau desa kelahirannya bertemu dengan orangtua dan sanak keluarganya. Letupan ini juga menunjukkan adanya asimilasi budaya dan ajaran Islam. Budaya mudik terjadi pada masyarakat muslim Melayu seperti Indonesia dan Malaysia. Namun hiruk-pikuk ini tidak terlihat pada komunitas muslim di negara lain seperti Timur Tengah dan Eropa.
Mudik mempunyai peran penting dalam transfer kapital untuk pemerataan ekonomi. Mereka akan beramai-ramai membelanjakan kebutuhan konsumtif dengan nilai miliaran rupiah. Sebuah transfer kekayaan yang indah dari kota-kota besar ke daerah pinggir yang barangkali jauh dari akses ekonomi. Demikian juga mudiknya para tenaga kerja Indonesia (TKI) dari berbagai negara ke Indonesia. Tentu ini memupuk pundi-pundi devisa melalui sumbangan dolar. Diperkirakan pada tahun 2010 kurang lebih 500.000 pemudik TKI akan membanjiri pelabuhan dan Bandara, di mana menurut Duta Besar Republik Indonesia di Malaysia Da’i Bachtiar sebagian besar–sekitar 350.000 orang berasal dari Malaysia. Apabila diasumsikan setiap TKI membawa bekal Rp 20 juta, maka potensi devisa sekitar 1 miliar dolar AS akan teraih. Sebuah angka yang cukup fantastis.
Oleh karena itu para pemudik hendaknya disambut hangat sehingga mereka merasa puas dan nyaman. Beberapa hal yang bisa diberikan kepada pemudik adalah sarana transportasi yang aman baik melalui laut, darat atau udara. Kemudian jalur transportasi yang nyaman seperti jalan relatif lebar dan layak dilewati serta jaringan komunikasi yang lancar. Hal yang penting lagi adalah situasi keamanan yang kondusif. Peran aktif aparat keamanan sangat diperlukan agar kegalauan masyarakat tentang berita kriminalitas, termasuk perampokan akhir-akhir ini tidak lagi terdengar. Kita berharap Idul Fitri memupuk semangat ketakwaan yang bersinergi dengan gairah budaya untuk mendongkrak perekonomian. Meskipun mungkin keceriaan ini hanya sesaat. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







