Kita diberi kejutan dengan kemenangan film Identitas di ajang Festival Film Indonesia 2009. Identitas dinilai sebagai film terbaik. Sutradaranya, Aria Kusumadewa, juga menyabet penghargaan sutradara terbaik. Pro dan kontra menyelimuti film Identitas, entah karena dianggap menyuarakan banyak aspirasi lewat tema, atau malah kurang mencerminkan kualitas film Indonesia, seperti yang sejak lama diharapkan. Dianggap film terbaik, tapi belum tentu sempurna, dan memenuhi target kita untuk membuat film yang tidak ala kadarnya.
Hal menarik dari Identitas, yakni tema dan kepekaan terhadap banyak persoalan sosial, politik, ekonomi, kesehatan, kebudayaan, dan lain-lain. Ketika menonton film ini, kita diingatkan pada dunia rumah sakit, yang untuk beberapa bulan ini membawa kita pada kasus kontroversial, Prita versus Rumah Sakit Omni International. Memang tak ada kaitan langsung, tapi hal ini membuat kita untuk mau memperhatikan dunia rumah sakit, cermin dari kebijakan kesehatan terhadap konsumen, apalagi pasien yang miskin. Pasien selalu terteror agar memiliki identitas. Sakit dan mati memerlukan identitas, jika tidak ingin tertelantarkan, serta tidak mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
Rumah sakit dalam film Identitas diistilahkan ”rumah sehat”. Entah maksudnya sebagai ejekan, gurauan, ataukah bentuk gugatan atas keteledoran pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Pasien miskin tidak dirawat secara profesional, baik dalam pelayanan dan penyediaan obat. Anehnya, di ”rumah sehat” itu bergentayangan mafia kesehatan, calo, penipu dalam bisnis, germo, dan lain-lain. Pemandangan yang membuat kita kaget, betapa tak terurusnya ”rumah sehat.” Tidakkah mereka memiliki etika dan aturan?
Diceritakan dalam film itu seorang tokoh bernama Adam yang bekerja di ”rumah sehat” sebagai perawat mayat. Lelaki bujangan ini agak introvet, terlihat dari hubungan sosial, serta kurang memiliki ambisi hidup. Kehidupan Adam jauh dari glamor. Keadaan rumahnya menunjukkan Adam cukup terpelajar, secara ekonomi kecukupan, meskipun hidup sendirian di rumah yang sempit. Pada gambaran inilah, penonton mengetahui identitas si Adam.
Kita tidak tahu apa maksud sutradara yang sering memperlihatkan adegan Adam memegang dan membaca buku. Mungkin saja, koleksi buku di rumah Adam, dan kegiatan membaca buku itu dijadikan alasan, bahwa Adam memiliki rasionalitas untuk memecahkan masalah. Pada saat itulah, identitas mulai dibangun, secara perlahan dan bercabang. Marilah mengingat kembali buku-buku yang dibaca dan dijadikan adegan sesaat oleh sutradara. Buku-buku tersebut antara lain, Kusni Kasdut karya Parakitri, Sejarah Tuhan karya Karem Amstrong, Da Vinci Code karya Dan Brown, ditambah beberapa koran.
Apa yang dapat kita duga? Kusni Kasdut adalah tokoh terkenal semasa Orde Baru yang dicap sebagai penjahat, meskipun dalam riwayat hidupnya pernah menjadi Heiho. Masyarakat sangat mengenal nama ini dan tahun seluk beluk kejahatan yang dilakukan. Tapi, tidak banyak yang tahu identitas sebenarnya Kusni Kasdut. Sampai hari ini masih banyak misteri mengenai identitasnya. Sedangkan buku Sejarah Tuhan, beberapa tahun lalu mengundang kontroversi. Bukunya laris terjual di Indonesia. Salah satu pesan dalam buku itu, yakni membicarakan identitas Tuhan secara ilmiah dengan konsekuensi iman. Identitas Tuhan dibahas dengan memukau oleh Armstrong. Kenapa identitas Tuhan? Buku terakhir, Da Vinci Code, bicara misteri identitas Yesus, serta identitas tokoh-tokoh penting dalam sejarah Kristen. Novel ini menggemparkan dunia, sebab ingin membuka misteri identitas yang selama ini tampaknya tabu untuk diungkapkan.
Apakah karena itu semua, buku dianggap penting oleh sutradara, untuk menimbulkan kesan pada penonton, bahwasanya identitas adalah masalah penting yang terkait dengan keimanan kita dan kehidupan sehari-hari kita, entah yang baik maupun jahat? Jika benar, artinya, sutradara jeli dalam menggarap simbol. Kejelian penting, sebab film yang baik dan matang adalah film yang tidak verbalistik, memudahkan segala sesuatu dalam komunikasi dengan penonton. Inilah kekuatan film Identitas yang susah tertandingi oleh film-film lainnya.
Kekuatan yang lain, yakni obrolan para tokoh di warung. ”Orang berlomba-lomba mencari identitas.” ”Buat apa identitas?” ”Kenapa orang yang sudah punya kerja masih terus mencari identitas, sampai akhirnya menjadi koruptor?” ”Mengapa kalangan agama berbangga dengan identitas agama yang kesannya dijadikan sarana ingin dihormati dalam hal status sosial?” ”Siapa yang berhak menentukan identitas?” ”Apa kita punya identitas?”
Banyak pernyataan identitas dalam film itu, tapi jadi terfokus saat kemunculan tokoh perempuan tak bernama, yang menunggui bapaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Tokoh ini dengan cepat bergaul, dekat dengan Adam. Sampai akhirnya, mereka berkenalan. Adam ingin tahu nama perempuan itu, akan tetapi si perempuan tidak mau menyebutkan nama. Bahkan ia minta pada Adam agar menyebut dirinya dengan nama apa saja. Semula Adam tidak mempermasalahkan itu, hingga suatu saat, bingung memberi kartu nama pada sesosok mayat perempuan itu yang mati dibunuh. Adam tak tahu sama sekali identitas perempuan itu, meskipun beberapa kali pernah diajak pulang ke rumahnya. Ia cuma tahu, perempuan tak bernama itu pelacur, tapi baik hati, sebab peduli sesama dan keluarganya.
Di sinilah, masalah identitas sampai pada klimaks. Kita mulai dingatkan pada sebuah ungkapan terkenal dari Amin Maaluf, seorang novelis dan pemikir, ”Identitas adalah salah satu musuh dalam selimut.” Maksudnya, ”Kita semua mengira paham apa makna kata itu dan terus mempercayainya, bahkan ketika dengan culasnya ia mulai berucap yang sebaliknya.” Kutipan ini sepertinya membantu kita untuk merangkum banyak masalah orang mencari identitas di film Identitas.
Saat itu musim politik, orang menjagokan diri jadi pemimpin, partai politik berkampanye. Artinya, identitas politik diperebutkan. Orang-orang miskin yang hidup di daerah kuburan mau digusur, sebab mereka tak memiliki surat resmi kepemilikan, ataupun kartu identitas. Pemerintah menggusur tanpa belas kasihan. Adam ikut membantu perempuan tak bernama mencari Askeskin. Yang harus diurus dulu adalah SKTM, (Surat Keterangan Tanda Miskin). Surat tersebut tidak bisa didapatkan karena tidak ada kelengkapan identitas ayah, maupun data keluarga perempuan tak bernama di kantor kelurahan. Usaha mencari identitas para tokoh disampaikan dengan kritis, sekaligus penuh dilema. Itukah gambaran kehidupan warga negara di Indonesia yang katanya menganut demokrasi, serta mengacu pada konstitusi dan HAM?
Filam Identitas berhasil mengusung tema kecil yang menimbulkan banyak efek, ditunjang oleh penggarapan skenario oleh Aria Kusumadewa yang tidak lepas dari realitas sosialnya. Dedy Mizwar, selaku produser, memuji film ini memang bagus, sebab sejak awal telah diketahui target kualitas. Tapi kalau dibilang film laku, masih harus kita pertanyakan, sebab penonton kita jarang yang suka dengan tema seperti ini, apalagi penggarapan yang termasuk dalam jenis film indie.
Kemenangan film Identitas sepertinya terkait sekali dengan tema atau bisa dikatakan pesan dari cerita yang sifatnya keseharian, namun selalu menimbulkan masalah, yang harus kita hadapi sampai mati. untuk hidup kita butuh identitas. Bahkan, untuk mati kita juga butuh identitas. Masalah ini dihadapi Adam saat merawat mayat perempuan tak bernama, yang akhirnya diberinya nama Hawa. Pesan terpenting dalam film ini barangkali adalah kita harus terus berusaha memperoleh identitas, sebab identitas itu tidak stabil. Identitas tak hanya nama, etnis, alamat, jenis kelamin, agama, pekerjaaan, yang terpenting adalah cara kita memberi makna terhadap identitas yang beragam. (***)
Penulis adalah peminat sastra
dan politik. Beberapa tulisan berupa artikel, cerpen, dan puisi termuat
di berbagai antologi sastra.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







