SOLO—Seiring serbuan aneka produk impor termasuk agrobisnis dalam pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak awal tahun lalu, diakui menimbulkan ancaman bagi keberadaan produk lokal Tanah Air. Hanya saja ancaman tersebut ditandaskan konsultan Agrobisnis Farid Sunarto harus menjadi sebuah peluang.
“Seiring ACFTA dengan adanya tantangan dan ancaman itu justru harus jadi peluang. Mata kita harus terbuka akan serbuan produk tersebut,pun pada agrobisnis buah, sehingga kita bisa lebih mengenalnya Jadi kalau kita tidak bisa menyediakannya. Yach, kita bisa sediakan seed atau substitusinya,” tandasnya kepada wartawan, pekan lalu.
Ditambahkan Farid yang juga pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Solo, agar para petani lokal tetap bertahan, haruslah ada pemberdayaan dan potensi daerah, termasuk back up dari pemerintah melalui peningkatan sejumlah dana. “Memang produk impor sudah mendominasi pasar, hanya saja produk agrobinis kita pun juga berpeluang ekspor,misalnya saja vanili, lada, kayu putih, dan gaharu,” tandasnya.
Terpisah, Sunardi salah satu pedagang buah di pasar Gede Solo membenarkan banyaknya buah impor sekarang menyerbu pasaran di Kota Solo. Seperti jeruk China merek Super Honey Ponkan, anggur, buah apel merah dari Amerika. (qds)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




