Baru dua hari dibuat, grup di situs jejaring sosial Facebook itu sudah menghimpun tak kurang dari 55.000 anggota, dan terus bertambah banyak. Entah apakah grup Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto itu benar-benar akan meraup sejuta pendukung. Tapi, bola sudah mulai bergulir dan tentunya itu mewakili nurani publik yang terusik oleh penahanan kedua pemimpin KPK nonaktif itu, hanya gara-gara mereka sering menggelar jumpa pers.
Dari sejumlah status yang ada di grup tersebut, terungkap sejumlah komentar yang menyayangkan perseteruan antara Polri dengan KPK yang berawal dari tersangkutnya Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Nasrudin yang dicurigai publik penuh rekayasa, disambung dengan penetapan Bibit dan Candra atas tuduhan penyalahgunaan wewenang, dan puncaknya penahanan terhadap keduanya.
”Prestasi Polri yang telah berhasil menangkap dan membunuh pelaku teror nomor satu di Indonesia hilang ditelan kesalahan yang telah mereka lakukan terhadap pimpinan KPK. ”Cukup sangat disayangkan mengingat hasil tersebut tidak mudah untuk didapatkan... semoga pimpinan Polri sadar atas kesalahan yang telah mereka lakukan,” tulis akun Facebook atas nama Rudi Hermanto, Jumat (30/10) pukul 22.50, saat itu angka dukungan sudah merambat ke 58.468.
Tentu, sebagian pendukung juga mengaitkan petaka yang menimpa KPK ini dengan beberapa kasus korupsi, karena tentu saja koruptorlah yang bersorak dengan lumpuhnya lembaga pemberantas korupsi yang terbilang berhasil itu.
Kasus Bank Century banyak disebut-sebut, umumnya mereka curiga ada skenario besar untuk melumpuhkan KPK agar kasus Bank Century yang menyedot dana APBN sebesar Rp 7 triliun itu bisa lolos dari jerat KPK.
Malahan, tak kurang sejumlah komentar mengusulkan gerakan yang lebih riil. Ramli Sastrodimulyo, pada pukul 23.00 menulis, “Mestinya mahasiswa se-Indonesia turun ke jalan. Apa pun ceritanya jelas-jelas KPK telah dilumpuhkan, luar biasa negeri ini, makin lama makin kaco!!!” Saat itu dukungan sudah menembus 60.421.
Sebagian pendukung gerakan menyayangkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai condong ke pihak Polri. Meski berkali-kali mengaku netral, SBY sempat mempertanyakan penyadapan telepon yang dilakukan KPK. ”Bayangkan kalau ada pihak yang punya uang dan beli penyadap, kemudian membeli lagi penyadap di mana-mana dan menjadi lautan penyadapan, itu melanggar hukum dan undang-undang,” kata SBY dalam jumpa pers di kantornya, Jumat (30/10).
Presiden SBY juga mempertanyakan beredarnya transkrip rekaman tersebut. ”Bagaimana bisa beredar transkrip dari penyadapan. Buka semua demi kebenaran dan keadilan,” tegasnya.
Hingga pukul 24.00 WIB, tercatat dukungan terhadap gerakan itu, sudah meraup angka 63.307. Ingin bergabung? (Ari Kristyono)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







