Mengiringi jalannya orbit surya dengan sapu lidi, Setiap hari tanpa henti nenek tua ini menyapu rumah dan pekarangannya, bahkan jalanan sekeliling kampung tak luput dari sapuan kumpulan tulang daun kelapa itu di tangannya. Di saat senggang kuamati dia dari balik kaca nako rumah kontrakkanku yang baru tiga bulan ini kutempati.
Ganjil lagi sebelumnya, telah siap ember berisi air tak penuh di depan pintu rumahnya, yang sesaat kosong ia pandangi. Dari bahasa tubuhnya kuyakin kalau dia sedang berdoa. Setelah terisi momen, segera air itu dipakai untuk cuci muka. ”Wudlu Mbah,” celetuk interpretasiku. Sisanya ia percikkan ke tanah. Sebagai alibi agar tidak menimbulkan debu jika disapu, tapi tak semua itu benar. Sebab masih saja tersisa sebagian, untuk di sentorkan ke selokan samping rumahnya.
Sudah lama ia ditinggal pergi suaminya, sejak Welas, anaknya berumur lima tahun, yang kini hidup ikut suami, kadang ia pulang sekadar menegok ibunya. Orang-orang kampung menerima hal itu sebagai kewajaran bentuk kepikunan Mbah Darmo.
Surya terlihat gagah berani siang ini, sinarnya bak tamparan Sang Pencipta. Sebagai penginggat makhluknya akan pentingnya jeda. Seperti biasa, waktu istirahat makan siang aku selalu pulang. Saat parkir motor di samping rumah, sekilas tampak Mbah Darmo kedatangan seorang tamu, perempuan setengah umur bersamaan ketika Welas ada di situ. Terlihat suasananya bahwa perbincangan itu adalah negosiasi. Berlawanan dengan perutku yang tak bisa diajak kompromi. Terpanggil bayangan masakan istri, untuk masuk rumah.
Di tengah makan siang, terdengar jelas obrolan tamu perempuan tadi saat pamit pulang, diantarkan oleh Welas sampai ke depan pekarangan. Kusimpulkan, bahwa tamu perempuan tadi adalah istri muda dari suami Mbah Darmo. Yaitu Raden Sukino Dimejo yang telah lama mencampakkannya, kutahu dari istriku yang mendapat cerita itu di pasar. Dan sebelum berlalu tamu tadi berkata, ”Mbak Welas, mbok tulung Ibu dibujuk supaya mau memaafkan Bapak. Kasihan Bapak, Mbak. Sakit keras.” Welas anaknya yang masih samar melihat sosok bapaknya. Otomatis statis karena hubungan darah, terhipnotis permintaan tamu itu.
Sekumpulan lidi yang terikat memang sangatlah susah untuk berai, walaupun kadang selidi dua lidi lepas dari ikatan. Itu pun tak akan sanggup menghentikan akad-ikatannya untuk melakukan predikat. Lain halnya dengan ibunya, Mbah Darmo yang masih terus, tak pernah berhenti hingga sore ini sepulang tamunya, masih mengayunkan sapu lidinya. Membersihkan dan menjaga apa yang kukuh ia pegang. Sebagai tuntutan nurani Walau itu sebatas perasaannya.
Hanya pagi ini, setelah tiga bulan tinggal tak kudapati Mbah Darmo menyapu. Sapu itu kelihatan sengaja berdiri terbalik, lidinya menjuntai ke cakrawala bak perlawanan ataukah permohonan berkah dalem kepada Gusti sang pengatur hidup. Di samping ember yang berisi air tak penuh. agak jauh kira-kira berjarak dua langkahku di depan pintu. Kata istriku dia baru masuk angin, Anaknya Welas menitipkannya kepada kami, ketika mau pergi. Entah pulang ke rumah suaminya atau pergi ke luar kota. Apa barangkali Ia baru marah dengan ibunya, sebab kemarin malam, kudengar obrolan keduanya saling debat. Mungkin soal mau atau tidaknya memaafkan bapaknya.
Jam dinding di ruang tamuku menunjukan pukul 12.09, saat seperti biasa aku pulang untuk makan siang. Di meja kulihat nampan yang di atasnya tersaji nasi, sayur bening, dan tahu tempe goreng, serta segelas teh. Heran, tak biasannya istriku menyajikan makan siang suaminya menggunakan nampan, langsung saja kuangkat gelas teh ingin minum, baru saja tutup gelas ku buka terdengar suara istriku. ”Eee.. jangan diminum Mas, itu buat Mbah Darmo, tolong Mas yang ngantar, sambil kusiapkan buat sampeyan. Tadi ketika aku ngantar Mbah Darmo masih tidur,” kata istriku sambil ngelap piring.
Saat kumasuk rumah Mbah Darmo tanpa mengetuk pintu, ia terbaring di ranjang kayu. Langsung saja kuletakkan tepak di atas meja pelan-pelan takut kalau ia terbangun, tapi ternyata tidak tidur. Belum selesai kutata isi tepak tadi ke atas meja, Mbah Darmo bangun dan perlahan duduk di samping ranjang. ”Matur nuwun lho, Mas...” kata Mbah Darmo.
”Suamiku itu dulunya seorang tuan tanah di kampung ini, hampir seluruh tanah pekarangan di kampung ini dulu adalah miliknya. Karena gemar judi dan main perempuan, lambat laun habis terjual terus ia pergi, hidup dengan perempuan lain,” ia mulai bercerita.
”Saat itu, Welas baru 5 tahun, kumulai menyapu keliling kampung. Karena masih ku anggap ini adalah milik kami, maka kusapu semuanya untuk perlambang membersihkan dosa-dosanya. Sudah kumaafkan Mas…” Mbah Darmo bicara padaku sepertinya ditujukan ke orang lain.
”Satu-satunya harta yang masih tersisa adalah rumah kecil ini.” Aku masih berdiri di depan ranjang tempat Mbah Darmo duduk. Dia melanjutkan bicarannya sehingga memaksaku untuk menganggukan kepala biar empati dan paham terlihat olehnya.
Ingin bangkit dari ranjangnya, agak kerepotan ku bantu. Ia berjalan keluar sambil berkata. Yang memaksaku untuk mengikutinya. ”Sebening air sumur, kuikhlaskan dia untuk hidup dengan pelacur itu. Sedikit cuci muka untuk menghapus kering air mata ini. Ku percikan di tanah, agar kembali dan ia krasan yang akhirnya membawanya kembali ke tanah ini, terakhir kusiram ke selokan biar lancar jalan hidupnya dan lancar doaku,” kata Mbah Darmo terhenti di depan sapu yang berdiri terbalik di samping ember berisi air tak penuh itu.
Lalu ia diam sesaat, memunculkan kesempatanku untuk pamit. ”Ya sudah Mbah, dimakan nggih.” Dan aku cepat-cepat meninggalkannya. Belum sempat aku masuk rumah terdengar suara, ”Bruakkkk!”. Bergegas langsung ku menoleh, kulihat seperitnnya ember berisi air tak penuh tadi dibantingnya ke tanah merobohkan berdirinya sapu lidi.
”Kumaafkan kau Mas!,” kata Mbah Darmo. Sejenak ku terpaku, hanya mampu melihatnya. Gagu apa yang harus kuperbuat, lalu kutinggalkannya.
Sejak Mbah Darmo membanting ember berisi air tak penuh siang tadi. Panas sang surya berangsur surut, mendung mengelayut hingga malam mengantar tidur. Suara guntur geledek menggelegar sebagai pertanda akan turun hujan. Membuatku terjaga dan bangkit meninggalkan istriku yang sudah lelap. Ketika ku buka kaca nako rumah kontrakanku ternyata hujan sudah mulai turun, mataku tertuju ke ember yang tergeletak di atas sapu lidi tadi yang masih belum berubah tempatnya.
Suara sepeda motor berhenti di depanku saat baru kupanaskan motor pagi itu. Lelaki berjaket kulit, berkacamata hitam dan menggunakan masker melepas helm. Seperti baru saja berkendara jauh turun dari motor dan menghampiriku. Tanpa bertanya terlebuh dulu ia memberikan selembar kertas HVS putih terlipat dari sakunya kepadaku. Langsung ia berkata, “Pak, titip ini nanti disampaikan ke Mbah Darmo. Pintunya masih tutup.”
”Ia Mas, nanti saya sampaikan,” jawabku. Langsung dia berlalu menyalakan mesin sepeda motor dan pergi.
Kubuka lipatan kertas HVS yang memang tidak dilem dan beramplop itu. Seperginya orang itu, masih terdengar sayup suara knalpot motornya, kubaca Sebuah tagline: Lelayu. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun… Telah berpulang ke Rakhmatullah Suami, Bapak, Eyang kami tercinta R. Sukino Dimejo. Sejenak terhenti kubaca menoleh kupandangi ember yang tergeletak di atas tidurnya sapu lidi yang masih basah berselimut air hujan.
Solo, 12 April 2010
Penulis adalah
cerpenis, di Solo
Aktif di Teater Kidung dan Komunitas Wayang Suket
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






