Minggu (28/3) siang kemarin menjadi hari yang sibuk bagi warga di Dusun/Desa Blulukan, Colomadu, Karanganyar. Siapa menduga, dalam satu hari itu mereka harus menguburkan empat warga yang menjadi korban kecelakaan maut di Jalan Adi Sucipto, tepatnya di depan Hotel Lorin, Desa Blulukan, Kecamatan Colomadu, Sabtu (27/3) malam lalu.
Empat warga, masing-masing Siti Wahyuni warga RT 1 RW IV dan Sri Wahyuni (RT 2 RW IV) meninggal di lokasi kecelakaan. Dua korban lain yang kondisinya kritis, yakni Sumiyem (RT 2 RW III) dan Suwarti (RT 3 RW IV), akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSI Yarsis Solo. Mereka tewas setelah dihantam mobil dua kali, dari timur dan barat, saat menyeberang jalan sepulang kerja.
“Padahal keempatnya warga yang baik dalam kemasyarakatan, betapa sedih kami kehilangan mereka,” ungkap Kadus Bulukan, Slamet Wiyono.
Kesedihan mendalam menggelayut di tiap rumah keluarga yang ditinggalkan para korban. Di rumah Sumiyem, meski mencoba tabah dan tidak menitikan air mata, kesedihan tak terperi sungguh tampak di raut wajah Kamto, suami korban. Menurut warga, Kamto melihat langsung peristiwa yang memisahkan dirinya dengan sang istri tercinta untuk selama-lamanya itu. “Waktu itu dia mau menjemput istrinya di sebelah utara jalan, jadi dia tahu betul pas istrinya ditabrak, bahkan pas dibawa ke rumah sakit ia sempat membopong istrinya,” tutur Sawidi salah satu tetangga korban.
Suasana yang sama juga tergambar di rumah Sri Wahyuni. Tangis haru maupun wajah termangu seakan tak percaya, terlihat pada raut wajah keluarga maupun kerabat korban. Bahkan kata para warga, Sri Wahyuni meninggal di pangkuan salah satu putranya, Sriyanto.
Sebaliknya, raut sedih sama sekali tak tampak dari wajah Erni Susilowati (10) dan Eva Setyoningsih (9). Keduanya adalah putri almarhum Siti Wahyuni (37). Kedua kakak beradik itu tampak asyik bercanda dengan teman-teman sebayanya. Menurut Marsini, salah satu tetangga almarhum, keduanya hanya diberitahu jika ibu mereka meninggal akibat penyakit demam berdarah. “Setahu mereka ibunya meninggal karena demam berdarah,” ujarnya.
Terpisah, Purwanto, suami dari almarhum Suwarti hanya pasrah atas kecelakaan maut yang merenggut nyawa istrinya itu. “Saya tidak akan menuntut apa pun. Saya hanya ingin kesadarannya. Jika diberikan santunan saya terima. Namun, kalau tidak juga tidak apa-apa, karena saya sudah ikhlas atas kepergian istri saya,” ujarnya dengan tegar.
Untuk mengantarkan para jenazah ke Makam Sanggungan, Desa Blulukan, kereta jenazah pun digilir. Giliran pertama adalah pemakaman jenazah Sumiyem, dilanjutkan jenazah Siti Wahyuni, Sri Wahyuni dan terakhir jenazah Suwarti. Ratusan pelayat pun terlihat berbondong-bondong berpindah dari satu rumah duka ke rumah duka lain yang rata-rata hanya berjarak kurang dari 100 meter. (Bagus Sandi Tratama/Arifin)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




