Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Ekspor vs Kelangkaan Pupuk

Sabtu, 26/12/2009 11:00 WIB -

Dua hal yang bertolak belakang terjadi dalam pembangunan pertanian di Sragen. Di satu sisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen sukses mengekspor beras berlabel “Sragen One” ke Uni Emirat Arab dan Qatar, Rabu (23/12). Tapi di sisi lain pada saat bersamaan, ada masalah lain yang juga penting dalam pembangunan pertanian yakni soal distribusi pupuk bersubsidi. Penyaluran pupuk urea bersubsidi diduga menyimpang sehingga bermunculan laporan kelangkaan pupuk di sejumlah tempat.
Soal ekspor beras, kami ikut berbangga dengan sukses ini. Prestasi ini setidaknya menjadi gambaran keberhasilan Bupati Untung Wiyono dalam pembangunan pertanian di Sragen. Bahwa pembangunan pertanian tidak soal budi daya, namun juga soal bagaimana pemerintah daerah memberi akses pemasaran. Output-nya di sini jelas, produk petani terjual dengan harga layak dan petani pun diharapkan menjadi sejahtera. Apalagi, sukses ekspor ini akan berlanjut pada ekspor-ekspor lain, tidak hanya produk beras. Adanya janji-janji diharapkan akan meningkatkan motivasi petani untuk terus berproduksi secara optimal.
Namun demikian di sisi lain, kami juga prihatin dengan masih adanya kasus lawas yakni kelangkaan pupuk bersubsidi. Kelangkaan di antaranya ditemukan di Kecamatan Gondang, Sragen. Kami berpikir kasus ini menjadi noktah buruk sukses ekspor beras ke Timur Tengah. “Karena nila setitik rusaklah susu sebelanga”, entah pas atau tidak, tapi begitu pikiran kami untuk kasus ini.
Kita semua pasti sudah tahu, pupuk adalah elemen penting dalam budi daya pertanian dalam meningkatkan hasil pertanian. Adanya pupuk bersubsidi yang jumlahnya sudah dijatah oleh pemerintah pastinya sangat membantu petani untuk mengurangi beban biaya produksi pertanian. Jadi, hilangnya pupuk bersubsidi jelas merupakan pelanggaran yang harus ditindak tegas.
Laporan dari seorang politisi Partai Golkar, realisasi jatah yang dikirim ke petani ternyata di bawah alokasi yang direkomendasikan oleh Bupati. Untuk wilayah Gondang, dari 2.172,990 ton yang dialokasikan, hingga kini jumlah yang dikirim baru 2.005,30 ton atau ada selisih 165 ton. Jumlah 165 ton jelas bukan jumlah sedikit. Untuk itu Pak Untung, tolong hal ini segera dituntaskan. Buat petani Sragen bangga dengan kebijakan-kebijakan Bapak! (***)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :