Menanamkan nilai kejujuran, terutama di lingkungan pendidikan terasa semakin sulit. Salah satu penyebabnya adalah krisis keteladanan. Bisa kita saksikan secara terang benderang tidak adanya kesamaan antara kata-kata dan perbuatan yang semakin merambah hampir di setiap lini kehidupan.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa di lembaga pendidikan, bisa dijumpai perilaku tidak jujur yang dilakukan individu di sekolah. Mulai dari siswa yang menyontek, sampai pada keteladanan buruk dari para pendidik sendiri.
Seperti, kasus 1.082 guru di Riau ketahuan menggunakan dokumen palsu untuk mendapat gelar “guru profesional”, juga maraknya penjiplakan karya ilmiah oleh pendidik untuk kepentingan kenaikan pangkat dan program sertifikasi. Ditemukan juga berbagai macam tindak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional, ada kepala sekolah yang tertangkap polisi saat berusaha mencuri soal-soal ujian UN dan masih banyak lagi.
Jelas-jelas nyata contoh kasus kecurangan di atas telah mencoreng dunia pendidikan. Para pendidik yang semestinya sebagai pelopor dalam menjaga nilai-nilai kejujuran dan menanamkan nilai-nilai tanggung jawab. Jika para guru tidak jujur dan bahkan mengingkari tanggung jawab profesional dan moral mereka sebagai pendidik dan individu, ke mana lagi para siswa mesti bercermin dan menemukan sosok keteladanan?
Ada berbagai macam sebab, mengapa ketidakjujuran itu merambah ke mana-mana. Ketidakjujuran dalam dunia pendidikan bisa berasal dari faktor individu, sosial, dan struktural. Ternyata ketiga faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain.
Budaya menyontek menjadi hal biasa. Untuk mengubah budaya tersebut, dibutuhkan kerja sama lintas sektoral. Individu memiliki kebebasan mengambil pilihan. Karena itu, ketiadaan aturan sosial yang tegas bisa memberi kesempatan pada individu untuk berbuat tidak jujur. Ketika tidak ada kontrol dan hukuman sosial bagi perilaku tidak jujur, perilaku tersebut lantas dianggap sebagai budaya yang normal dalam lingkup kehidupan sekolah.
Perilaku ini akan semakin merajalela ketika kelemahan moral individual ini mendapat dukungan dari lingkungan, dan terstruktur dalam sebuah kultur yang didukung oleh tata peraturan dalam sekolah.
Maka dari itu pendekatan holistik di perlukan untuk mengatasi situasi ini. Pendekatan holistik adalah pendekatan yang melibatkan keseluruhan komponen baik antarindividu maupun lingkungan sekolah, di mana tanggung jawab dan kejujuran pelan-pelan harus dipraktikkan secara bersama-sama, mulai dari hal yang kecil-kecil.
Beberapa Strategi
Berikut beberapa strategi bagi guru untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran akademis. Pertama, dalam pembelajaran di kelas. Sejak awal guru mesti memberikan keteladan yang pantas di-gugu dan ditiru, lalu menjelaskan pentingnya nilai-nilai kebaikan dan kejujuran yang telah diterapkan di lembaga sekolah tersebut. Bahwa pelaku kejujuran dan tanggung jawab akan mendapatkan penghargaan, namun bagi pelanggaran akan mendapatkan hukuman secara proporsional.
Kedua, dengan membuat kesepakatan bersama. Bukan hanya antara guru dengan siswa, tetapi perlu dilembagakan dalam sebuah tata tertib sekolah dengan mengundang partisipasi siswa dan para stake holder melalui dialog terbuka. Harapan dari hasil dialog ini menyangkut tentang perilaku apa saja yang termasuk sebagai realisasi nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab, sanksi sosial apa yang diterima, dan bagaimana guru dan sekolah membantu individu agar semakin bertumbuh dalam menghayati nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam lingkungan pendidikan.
Ketiga, dalam menghadapi siswa yang menyontek, guru hendaknya tidak langsung memarahi, namun memberikan sanksi akademik berupa pengurangan nilai atau tidak diberi nilai sama sekali. Ada beberapa kasus meskipun siswa itu telah belajar, ia masih merasa kurang percaya diri, sehingga tetap memaksanya menyontek. Situasi ini bisa diatasi jika para guru menumbuhkan rasa percaya diri.
Keempat, sekolah seharusnya memiliki rubrik penilaian yang menjelaskan berbagai macam kriteria yang perlu dimiliki dan dipahami oleh siswa agar mencapai nilai tertentu. Siswa akan semakin terbantu untuk belajar dan mengerjakan tugas sebaik mungkin, karena mereka telah mengetahui rubrik penilaian sejak awal.
Kelima, penilaian akan lebih efektif jika siswa diberi kesempatan untuk menanyakan kepada guru yang bersangkutan bila terjadi kesalahan dalam pengoreksian. Kesalahan pemberian nilai sangat mungkin terjadi karena ada perbedaan pendapat tentang jawaban soal yang telah dikerjakan siswa. Kesemapatan siswa untuk menanyakan langsung tentang penilaian dari guru akan membentuk rasa percaya diri dan rasa kejujuran siswa.
Keenam, guru seharusnya menghargai kemajemukan atau perbedaan cara belajar dan cara mengekspresikan pengetahuan yang dimiliki siswa. Ada jenis siswa yang kuat dalam visual, audiotorial maupun kinestetik. Maka guru harus kreatif, inovatif dan variatif dalam menyampaikan model pembelajaran.
Ketujuh, untuk melihat kemajuan pembelajaran dalam menanamkan kejujuran perlu forum refleksi. Baik guru maupun siswa memiliki hak yang sama untuk dievaluasi. Tahapan ini bisa dilakukan secara rutin, misalnya di akhir tiap-tiap semester. Sehingga dapat diketahui tingkat kemajuan masing-masing pihak dalam penanaman nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawabnya.
Siswa diberi kesempatan untuk mengkritisi performa guru dalam mengolah kelas, demikian juga guru memberikan masukan kepada siswa untuk meningkatkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Kegiatan refleksi bisa dilakukan secara tertulis sehingga lebih terjaga kejujurannya. Untuk siswa mereka harus jujur, apakah mereka selama semester ini masih berbuat curang dalam ulangan? Berapa kali mereka menyontek? Pelajaran apa saja mereka biasanya menyontek? Lalu hasilnya didokumentasikan untuk keperluan evaluasi bersama yang melibatkan seluruh komunitas pendidikan di sekolah. Hasilnya dibandingkan dari semester ini dengan semester sebelumnya, untuk melihat tingkat kemajuan siswa.
Sebetulnya masih banyak cara untuk menumbuhkan tanggung jawab dan nilai-nilai kejujuran di kalangan siswa. Yang pasti sekolah merupakan lembaga yang memiliki tujuan mulia. Tujuan tersebut harus didukung semua pihak. Dukungan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kejujuran, akan membuat sekolah itu menjadi sebuah lingkungan belajar yang menumbuhkan kepribadian luhur.
Jika lembaga pendidikan tidak dapat mendidik pribadi-pribadi menjadi lebih jujur dan penuh tanggung jawab, bisa dipastikan bahwa tatanan masyarakat dan negara akan semakin rusak. Mestinya menumbuhkan kejujuran menjadi salah satu agenda krusial setiap lembaga pendidikan.
Guru SMAN I
Girimarto Wonogiri
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







