JAKARTA—Teka-teki teroris yang tewas ditembak di Ruko Multiplus, Pamulang, Tangerang, terjawab sudah. Dialah, Dulmatin teroris yang paling dicari karena mahir merakit bom.
Kepandaiannya merakit bom, diakui Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD), melebihi Dr Azahari. Kembalinya Dulmatin, hanya beberapa hari menjelang kedatangan Presiden AS Barack Obama. Perihal hal tersebut, Kapolri tidak berkenan menjawabnya.
“Pertanyaan yang lain-lain tidak perlu saya jelaskan,” kata Kapolri dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (10/3). Masih banyak pertanyaan yang belum dijawab Kapolri saat mengakhiri jumpa pers, termasuk pertanyaan apakah Obama menjadi target serangan Dulmatin cs.
Saat itu, Kapolri ditanya apakah sasaran khusus yang pernah disampaikan Kapolri sebelumnya adalah Obama.
Namun, Kapolri membantah hal ini. “Yang saya maksud sasaran khusus adalah sasaran kita, bukan target mereka. Sasaran kita ya sekarang yang tertangkap ini,” kata Kapolri. “Ini (Dulmatin cs) berhasil kita tangkap dan lainnya jadi target kita.”
Terkesan pengungkapan ini, terkait kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia. Jika ada kesempatan dan celah, Dulmatin cs mengincar Obama. “Kalau ada kesempatan, Obama tidak akan dilewatkan. Tapi aksi yang dilakukan tidak terkait momentum, latihan di Aceh seperti itu hukumnya wajib bagi anggota kelompok,” ujar sumber di kepolisian yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (10/3).
Latihan yang dilakukan di Aceh itu merupakan kerja dari jaringan Aceh, dalam hal ini Front Mujahidin Aceh dan kelompok Jemaah Islamiyah (JI) ring Banten. “Mereka berkomunikasi saat di Ambon pada 1999 lalu. Hubungan itu dibangun lagi sekarang,” tutur sumber.
Bagi kelompok itu, sosok Obama adalah wakil dari Amerika Serikat yang merupakan musuh Islam secara global. “Perang atas Amerika itu bagian dari perang global,” bebernya.
Dulmatin dimintai bantuan untuk melatih para pelaku teror di Aceh mengingat selama ini dia tinggal di Mindanao dan memiliki pengalaman perang kota, yang umumnya dipegang para kelompok di Mindanao. “Kalau kelompok Mindanao dikenal ahli perang kota, Thailand Selatan ahli perang gerilya dan Indonesia dikenal dengan kemampuan manajerial. Kemampuan perang di Filipina itu akan digunakan untuk membantu membangun basis di kota-kota,” tutupnya.
Identitas teroris yang tewas ditembak di Pamulang, kali pertama disampaikan Presiden SBY di hadapan parlemen Australia. Di sela-sela menyampaikan pidato, Presiden SBY tiba-tiba disodori secarik kertas oleh ajudannya. Presiden kemudian menyampaikan kabar dari Tanah Air, setelah gembong teroris Dr Azahari dan Noor M Top, tewas ditembak. Kepolisian RI kembali berhasil mengungkap pelaku terorisme. Kali ini, teroris yang ditembak mati yakni Dulmatin. Dia merupakan, teroris paling dicari di kawasan Asia Tenggara. Usai menyampaikan kabar tersebut, Presiden SBY mendapatkan aplaus dari anggota parlemen Australia.
“Alhamdulillah pukul 10.00 WIB, sudah bisa ditentukan (identitasnya) dan tentunya kami lapor kepada Bapak Presiden pada saat berpidato (di Australia) dan juga pada Bapak Wapres tadi,” ujar BHD.
Kapolri menyampaikan pujiannya pada Pusdokkes Polri yang bekerja keras menyimpulkan identitas Dulmatin dkk. “Begitu terjadi kontak senjata dan ada yang meninggal, kemudian dikirim ke RS Kramatjati, Pusdokkes tidak berhenti bekerja,” katanya.
Tiga teroris yang tewas dalam penggerebekan di Pamulang yakni Dulmatin, Ridwan dan Hasan Nour. “Tiga tersangka tewas di Jakarta (Pamulang, red). Jenazah 002 itu Ridwan, pengawal yang bersangkutan (Dulmatin) dan nomor 003 adalah Hasan Nour, pengawal yang bersangkutan juga,” kata Kapolri.
Penggerebekan di Baki
Kemudian untuk jenazah ketiga adalah gembong teroris yang menjadi DPO Indonesia, Amerika Serikat, Australia dan Filipina. “Jenazah nomor 001 itu 100 persen dengan tingkat kemungkinan kekeliruan 1:100.000 triliun ini adalah betul bahwa benar-benar Dulmatin alias Yahya alias Mansyur alias Joko Pitono,” kata BHD.
Sedang pengawal Dulmatin, Syaiful Siregar alias Abu Haikal, juga tertembak. Namun pria tersebut tidak tewas.
Kepala Pusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol dr Musaddeq Ishaq menyatakan tim Polri membandingkan ciri-ciri fisik dari tiga jenazah teroris dengan ciri-ciri fisik Dulmatin. Ada kesamaan ciri fisik yaitu tahi lalat di bawah bibir sebelah kanan. “Kami dapatkan ada hal identik tahi lalat. Kemudian alis cocok dan dagu cocok,” kata Musaddeq.
Dibandingkan foto-foto saat hidup dan foto jenazah setelah meninggal. “Foto hidup dan foto jenazah juga cocok,” lanjutnya. Tim Dokkes juga mengambil sidik jari namun tidak ada sidik jari pembanding. Polri pun mengandalkan tes DNA lewat Hj Asmiyati (60) dan Ali Usman (12). Keduanya diketahui merupakan ibu dan anak Dulmatin. “Jenazah nomor 001 match 100 persen dengan profil DNA di data kami,” ujarnya.
Pengamat Militer asal Solo, MT Arifin kepada Joglosemar menyatakan peluang berkembangnya jaringan teroris di Indonesia masih tetap ada. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena jaringan terorisme yang saat ini berkembang adalah jaringan internasional yang mulai marak muncul tahun 90-an. “Saat ini, jaringan teroris yang ada adalah jaringan internasional, berbeda dengan pola sebelumnya yang hanya kelompok kiri atau kanan atau pola pada tahun 1960-an yang berupa gerakan separatis,” ujarnya.
Sementara itu, Densus 88 Mabes Polri menemukan kontrakan yang diduga milik dua pria yang tewas dari atas motor Suzuki Thunder, dalam penggerebekan teroris di Pamulang. Setelah diberi garis polisi, polisi terlihat membawa barang bukti. “Polisi datang memeriksa ke dalam dan membawa keluar dua buah jeriken. Polisi juga terlihat membawa beberapa kotak kardus,” kata tetangga kontrakan, Eka, di lokasi Jalan Salak Gang Madrasah RT03/RW03, Pamulang Barat, Tangerang Selatan, seperti dikutip vivanews.com, Rabu (10/3).
Kedua orang penyewa kontrakan itu mengenalkan diri sebagai Marco dan Tari. Marco adalah pria yang berpakaian gamis dan berbadan gempal. Sedangkan si wanita, Tari memakai cadar. “Polisi sebenarnya sudah datang sejak kemarin sore. Polisi berpakaian preman tapi pergi lagi,” ujar Eka.
Dari penggerebekan di Aceh ditangkap 21 teroris, di Jakarta ada tujuh dan enam orang tewas terdiri di Pamulang tiga orang dan Aceh tiga orang. Sementara, Rabu (10/3), malam dikabarkan terjadi penggerebekan di Baki, Banyuanyar, Solo. Namun sejauh ini, tak ditemukan nama Kelurahan Banyuanyar, di Baki, Sukoharjo. (dtc/sus/dik/tam/ned/fan/yom)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







