MALANG—Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Faperta UB), Anton Muhibuddin, memperkenalkan potensi gulma sebagai bahan baku bioetanol. Anton memaparkan kajiannya tersebut dalam seminar internasional The 3rd Young Scientist Seminar, di Seminar Park, Yamaguchi, Jepang, baru-baru ini.
“Penggunaan gulma sebagai bahan baku produksi bioetanol sangat potensial di masa mendatang karena memiliki beberapa keuntungan. Di antaranya, murah, mudah didapat, serta menghasilkan kandungan etanol cukup tinggi,” papar Anton seperti dilansir dari situs resmi UB, prasetya.ub.ac.id/berita.php/id/page/3, Rabu (8/9).
Selain itu, menurutnya, penggunaan gulma sebagai bahan baku produksi bioetanol sekaligus akan mampu mengatasi penggunaan herbisida yang selama ini dilakukan dalam mengendalikan gulma.
Contohnya, Cyperus sp dan Lantana camara. Kedua jenis gulma ini diketahui mampu menghasilkan 0,27-0,31 liter bioetanol per satu kilogram bahan keringnya. Hasil ini lebih kurang setara dengan hasil biomassa lain seperti jerami dan bagas.
"Dengan demikian, potensi gulma yang mampu tumbuh cepat, resisten terhadap tekanan lingkungan biotik, maupun abiotik, dan high competitor plant sangat potensial digunakan sebagai bahan baku produksi bioetanol," imbuh Anton.
Seminar internasional The 3rd Young Scientist Seminar, tersebut terselenggara atas kerja sama Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), National Research Council of Thailand (NRCT), Yamaguchi University, dan Khon Kaen University. (dhi)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







