Dinding samping SMPN 7 Surakarta yang semula dipenuhi coretan pilox berwarna-warni berangsur-angsur mulai terkelupas usapan berulang-ulang amril dan cetok dari para siswa SMPN 7 Surakarta. Sekilas terlihat melelahkan, namun para tetap bersemangat menghapusnya sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi vandalisme.
Tidak berhenti di situ, dinding yang sudah bersih dari corat-coretan itu kemudian mereka sapukan cat putih hingga dinding samping sekolah terlihat bersih dan enak dipandang kembali.
Dua siswa SMPN 7 Surakarta Muhammad Galih dan Okky Bagas mengungkapkan kekesalan mereka terhadap aksi vandalisme. “Vandalisme itu nggak asyik cuma dapat merusak fasilitas umum dan membuat dinding-dinding jadi kotor, tidak enak dilihat,” ujar Galih.
Bagas mengaku belum pernah sekalipun melakukan tindakan perusakan fasilitas publik seperti mencorat-coret dinding kota. Ia pernah melihat remaja lain yang melakukan tindakan vandalisme. “Tapi bagaimana kami mau menegur. Lha wong mereka jauh lebih gede daripada kami,” tuturnya.
Menurut Wakil Kepala SMPN 7 Surakarta Urusan Kesiswaan, Surono, dua galon cat sudah disiapkan untuk membersihkan dinding sekolah. Selain dinding, katanya, meja kursi kelas yang terdapat coretan dari tipex para siswa pun dibersihkan dengan tinner.
Kepala Disdikpora Kota Solo, Rakhmat Sutomo menyatakan hari ini (Jumat,red) digelar kegiatan stop aksi vandalisme yang merupakan implementasi peringatan Sumpah Pemuda. “Diharapkan akan tumbuh kesadaran, sense belonging dan character building siswa untuk mencintai kotanya.” (Bagus Sandi Tratama)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







