Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Disatukan oleh Latar Belakang yang Sama

Jumat, 12/03/2010 09:00 WIB - tia

Ada anggapan yang beredar luas di lingkungan masyarakat, jika menyukai hal-hal yang berbau luar negeri itu keren. Demikian anggapan sebaliknya jika menyukai sesuatu yang berbau kedaerahan dengan otomatis akan mendapat predikat kuno dan ketinggalan zaman. Pernyataan tersebut bertentangan dengan apa yang dilakukan para seniman muda yang tergabung dalam Ketoprak Ngampung. Ketoprak yang hingga saat ini masih eksis di Solo, merupakan penerus dari ketoprak yang dahulunya pernah berjaya, Ketoprak Balekambang.
“Dahulu ketika para orangtua kami bermain ketoprak, kami masih berusia belia. Sekarang ketika keberadaan ketoprak di masyarakat mulai punah kami mencoba untuk menumbuhkannya kembali dengan cara mementaskannya dari kampung ke kampung sesuai dengan namanya,” ungkap Krisna Setiawan,  salah seorang anggota Ketoprak Ngampung.
Para anggota ketoprak ini mengisahkan kesamaan latar belakang yang mereka miliki. “Kalau dahulu para pemain ketoprak tinggalnya di sekitar lingkungan tempat pementasannya. Kami tidak asing dengan suara tabuhan dan nyanyian para sinden setiap harinya dan itu pula yang sekarang menyatukan kami untuk kembali menghidupkan kesenian ini.”
Tema yang dibawakan oleh ketoprak ini pun tema-tema yang memang sedang terjadi di masyarakat. Karena menurut mereka ketoprak merupakan miniatur kehidupan masyarakat sehari-hari sehingga apa yang diperbincangkan pun seputar kehidupan yang sedang dialami oleh masyarakat tersebut.
“Jika kami pentas berharap orang yang menonton mengetahui lakon apa yang sedang dimainkan. Kalau mereka mengetahui nantinya akan ada interaksi dari penonton sendiri. Kami ketika akan berpentas selalu menawarkan pada masyarakat tempat tersebut mengenai judul apa yang akan dimainkan,” papar Dwi.
Saat ini Ketoprak Ngampung mengakui jika respons masyarakat mengenai ketoprak sudah mulai ada, namun memang belum seperti yang diinginkan. Ke depannya mereka berharap jika kesenian yang dulunya pernah menjadi primadona ini akan kembali berjaya. (tia)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :