Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Diana Kusuma Dewati Santosa Kreatif saat Bisnis Terpuruk

Minggu, 21/02/2010 09:00 WIB - Dwi Hastuti

Berawal dari rentetan keterpurukan, putri bos Danar Hadi ini justru menemukan jalan keluar yang menjadi titik awal karier bisnisnya. Rentetan keterpurukan yang sangat berat dalam hidupnya, hingga memaksanya tak bisa memilih lagi untuk berkarier di perusahaan lain, selain usaha rintisan keluarganya.
Diana Kusuma Dewati Santosa, nama lengkapnya. Namun dia lebih akrab disapa Diana. Saat ini dia aktif sebagai Managing Director PT Danar Hadi. Sebelum memangku salah satu posisi terpenting di PT Danar Hadi itu, Diana awalnya tak berminat untuk bergabung dalam perusahaan milik keluarganya itu. Dia semula justru berniat untuk meniti karier di sebuah perusahaan di Jakarta.
Sayang, niat untuk mandiri dengan memilih meniti karier di perusahaan orang lain itu toh akhirnya pupus, karena kondisi genting yang memaksanya untuk masuk dalam bisnis keluarganya itu.
Kondisi genting itu yakni, dua musibah yang tempo waktunya nyaris bersamaan. Di saat dia memulai berkarier di perusahaan orang, sang kakak, Diah Kusuma Sari Santosa, yang telah disiapkan keluarganya untuk mengelola PT Danar Hadi meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Tak berselang lama, musibah kembali menimpa, yakni, adiknya, Dian Kusuma Hadi Santosa, dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di Singapura. Lagi-lagi karena kecelakaan lalu lintas. ”Dua hal itu menjadi cobaan yang sangat berat dalam hidup saya,” ujarnya, saat berbincang dengan Joglosemar, di nDalem Wuryoningratan Solo pekan lalu.

Sempat Terpuruk
Di tengah cobaan hebat itu, dia berpikir, dua saudaranya yang menjadi harapan penerus bisnis keluarganya mustahil untuk diharapkan. Maka dari itu, tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan bisnis keluarganya selain bergabung di dalamnnya.”Karena hal itulah, saya kemudian mengundurkan diri dari perusahaan pilihan saya di Jakarta dan mulai bergabung dengan perusahaan milik keluarga,” tuturnya.
Mengurus PT Danar Hadi, diakuinya merupakan hal yang berat. Sehingga dia memilih untuk mendirikan perusahaan sendiri berlabel PT Kusumaputri, tahun 1995 meski memang tetap di-backing oleh sang ayah. ”Saya dengan sepupu mengelola Kusumaputri dengan memproduksi baju-baju kebaya dan pakaian kerja. Ya, tak jauh dari industri fashion juga,” katanya.
Cobaan belum juga berakhir. Kusumaputri yang dirintisnya dari awal tak berjalan mulus. Produk-produknya sempat ditolak di Metro, lantaran dinilai tak memenuhi standar mutu. ”Bahkan ongkos untuk sewa kantor yang kami keluarkan tidak tertutup dari pemasukan. Modal kami habis, malu mau minta lagi sama Ayah,” ujar menantu pengusaha hotel Sukamdani S Gitosardjono, tersebut.

Cara Kreatif
Kendati berasal dari keluarga pebisnis ditambah dengan bekal studi ekonominya, diakuinya belum cukup untuk mengurus usahanya. ”Tidak mudah menjalankan perusahaan keluarga. Tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, tinggal menjalankan karena perusahaan milik orangtua sendiri,” papar alumni sarjana ekonomi Universitas Trisakti Jakarta ini.
Di tengah-tengah keterpurukan itulah, Diana menemukan solusinya. Menurutnya, keterpurukan hanya bisa diatasi dengan bukti inovasi. ”Kalau orang pernah jatuh dalam berusaha, maka orang tersebut menjadi lebih kreatif,” tegas Diana.
Hampir setiap hari, waktunya kala itu, dia habiskan untuk menemukan cara-cara kreatif mulai dari terobosan desain fashion hingga cara jitu pemasaran produknya. Dengan bekal semangat menemukan hal yang kreatif itulah, usaha Diana dari tahun ke tahun mulai bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya sukses dan mampu bertahan hingga sekarang.
Tak salah, jika Diana yang sukses dengan menemukan cara kreatif untuk mengatasi keterpurukan itu berhasil menyabet penghargaan The Most Outstanding Woman dari Lippo Group. ”Intinya kita harus kreatif dalam kondisi apa pun, jangan mudah menyerah dengan keadaan,” ucapnya.
Dengan keberhasilan mengatasi keterpurukan bisnisnya, Diana akhirnya juga dipercaya untuk ikut mengelola PT Danar Hadi yang fokus pada usaha batik, sebagai Managing Director tahun 1996. Potensi putri bos Danar Hadi ini memang luar biasa, dengan bermodal berpikir kreatif, dia sukses mengelola dua perusahaan sekaligus.
Perempuan yang juga pernah menjabat sebagai Merchandising Manager di PT Sahid Noel Mitra Sejati Tahun 1992 hingga tahun 1996 itu kini banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. Hal itu karena, dia memilih lebih fokus pada ekspansi PT Danar Hadi ke beberapa kota besar di Tanah Air. ”Paling waktu luang itu hari Sabtu. Biasanya saya habiskan untuk mencari ide dari majalah-majalah, selain itu paling waktu saya habis untuk menemani suami dan anak-anak untuk jalan-jalan,” pungkasnya. (Dwi Hastuti)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :