Tulang keropos atau osteoporosis termasuk salah satu ancaman bagi usia tua. Dengan tulang keropos, secara otomatis kegiatan sehari-hari akan terganggu dan terhambat. Mungkin sampai saat ini tulang keropos masih diidentikkan dengan usia tua. Akan tetapi, kenyataannya, tulang keropos dapat datang lebih awal, bahkan dapat terjadi pada usia produktif. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya. Misalnya pada seorang ibu menyusui yang kurang mengonsumsi kalsium, secara otomatis kebutuhan kalsium bayi akan mengambil dari tulang dan gigi ibu. Dengan begitu, ibu menyusui yang kekurangan kalsium akan cepat mengalami tulang keropos.
Saat ini banyak gerakan antitulang keropos dilakukan berbagai instansi dan lembaga. Hal tersebut semata-mata untuk mencegah terjadinya tulang keropos pada usia tua. Berbagai macam kegiatan, mulai dari mengukur kekuatan tulang hingga gerak jalan dan anjuran mengonsumsi susu diselenggarakan demi mencegah peningkatan kasus tulang keropos.
Untuk mendeteksi dini kepadatan tulang, saat ini telah ada teknologi baru dalam bidang ortopedi yaitu dengan alat yang disebut Bone Mineral Densitometer (BMD). Menurut Dokter Spesialis Radiologi RS Ortopedi Prof Dr Soeharso Surakarta, dr Handry Tri Handojo SpRad, BMD merupakan alat untuk mengukur kekeroposan tulang. Dengan kata lain, BMD adalah alat yang digunakan untuk deteksi dini kekeroposan tulang. Alat radiologi kebanyakan identik dengan radiasi yang ditimbulkannya. Akan tetapi, BMD termasuk alat dengan radiasi minimal. “BMD menggunakan Xray dengan radiasi yang sangat sedikit. Bahkan jarak satu meter dari alat tersebut sudah bebas dari radiasi,” ungkapnya.
Sebetulnya banyak alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kekeroposan atau deteksi dini tulang pada tubuh manusia. Salah satunya yang paling banyak diketahui masyarakat adalah ultrasound. Alat ini sudah banyak digunakan dimana pun untuk mengukur tingkat kepadatan tulang. “Namun ultrasound bisa dikatakan tidak seakurat BMD. Bahkan kemungkinan salahnya besar. Selain itu, alat ini juga tidak direkomendasikan WHO untuk deteksi dini kekeroposan tulang. Di samping itu, penggunaan ultrasound juga harus dengan posisi yang ketat sekali. Dengan kata lain, posisi yang sedikit saja tidak tepat, maka hasilnya juga tidak maksimal. Dan harus diketahui bahwa ultrasound hanya direkomendasikan untuk screening saja,” papar dr Handry.
Beberapa kelemahan ultraosound yang menjadikannya tidak akurat yaitu positioning atau posisi yang tidak tepat, serta daerah alat yang kurang bersih. Sementara itu, BMD merupakan alat yang direkomendasikan WHO untuk mendeteksi dini kekeroposan tulang. Meskipun masih ada lain yang dapat mengukur hal serupa yakni CT Scan. Hanya saja, dengan harga yang mahal, tidak semua orang mampu mengakses layanan CT Scan. Kelebihan lain dari BMD adalah memiliki harga cukup murah, proses pengukuran kepadatan tulang dapat dilakukan dengan santai atau tidak harus dengan posisi ketat. Kemudian pemeriksaan kekeroposan tulang dengan BMD tidak memerlukan waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit. Dapat dikatakan pasien akan merasa nyaman dengan prosesnya dan tentunya dengan hasil yang akurat.
Di sisi lain, pemeriksaan atau deteksi dini dengan BMD dapat dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi, ada beberapa indikasi yang dapat dijadikan prioritas bagi siapa pun untuk melakukan pemeriksaan kekeroposan tulang. Dr Handry menambahkan, indikasi pertama yaitu pada wanita yang telah menopause. Pasalnya, wanita yang telah mengalami menopause akan mengalami penurunan kadar hormon estrogen di mana hal tersebut mampu memicu kekeroposan tulang. Kemudian indikasi seterusnya adalah seseorang yang mengonsumsi obat kortikosteroid atau seseorang yang mengonsumsi obat antikejang. “Atau bisa juga seseorang dengan faktor risiko osteoporosis yaitu perokok, kurus, memiliki aktivitas rendah, serta kekurangan kalsium, atau tidak pernah minum susu. Selain kalsium, tulang juga memerlukan zat penyatu komponen tulang seperti fosfat dan zat penyangga lainnya,” tandas dr Handry.
Di sisi lain, harus diketahui bahwa tulang sangat memerlukan zat lain selain kalsium. Pasalnya, tulang yang hanya terdapat kalsium di dalamnya memang akan padat. Namun tulang tersebut akan mudah patah. Dalam hal ini, kategori tulang yang baik adalah tulang yang lentur, padat, kuat dan elastis. Maka dari itu, kesehatan tulang sebaiknya dijaga sejak dini. Dengan diketahui kekeroposan tulang sejak dini, maka untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Pengeroposan tulang yang diketahui terlambat cenderung memiliki penanganan yang lebih sulit dibandingkan jika diketahui sejak dini. Jadikan tulang tetap kuat sampai usia tua.
Triawati Prihatsari Purwanto
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




