Selasa, 22/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Deteksi Dini Batuk pada Anak

Jumat, 26/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Salah satu penyakit yang sering dikeluhkan para ibu ketika membawa anaknya ke dokter atau ke poliklinik adalah batuk. Perlu diketahui oleh setiap orangtua, batuk pada anak-anak tak selalu berarti anak sedang mengalami masalah. Karena batuk pada dasarnya merupakan sebuah mekanisme pertahanan tubuh. Batuk yang terjadi lebih dari dua minggu dan terjadi pada malam hari terutama setelah anak tertidur lelap adalah beberapa ciri batuk yang perlu mendapat perhatian khusus.
Batuk merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang penting, utamanya pada saluran napas. Timbulnya batuk adalah gerak refleks alami untuk melindungi tubuh yaitu membersihkan saluran napas dari material asing maupun hasil sekresi (pengeluaran hasil kelenjar) alami yang berlebihan pada saluran napas. Pada saluran napas, terdapat lapisan yang bernama sel-sel berbulu (silia) yang cukup efektif membuat saluran napas tetap bersih dengan menyapu lendir atau dahak ke arah tenggorokan.
Akan tetapi pada kasus infeksi saluran napas, silia tersebut dapat rusak, sehingga batuk efektif sebagai pengganti. Walaupun sebuah refleks, batuk dapat dengan sengaja dimunculkan atau ditahan. Karena batuk dapat dikontrol yakni melalui sumsum tulang belakang yang berdekatan dengan pusat pernapasan.
Menurut dr Lucy Endang Savitri SpA, spesialis anak dari Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS), penyebab dan penatalaksanaan batuk pada anak-anak dan orang dewasa mempunyai persamaan sekaligus perbedaan. Khusus masalah batuk pada anak, setidaknya bisa dibagi menjadi dua jenis berdasarkan tingkat keseriusan masalahnya. Yakni batuk akut, yang biasanya berakhir 1 hingga 2 minggu dan batuk kronis yang berakhir lebih dari empat minggu.
“Sampai batas tertentu, sebagian besar batuk bermanfaat. Namun pada keadaan tertentu, batuk dapat menjadi masalah. Jika batuk berlangsung berat, sering, dan lama, maka sangat mungkin terdapat penyakit yang mendasarinya. Dengan demikian, tata laksana batuk ditujukan kepada penyakit dasarnya,” ujar Lucy.
Disebabkan Virus
Meski batuk sama-sama disebabkan oleh virus, pada orang dewasa dan anak-anak akan menimbulkan dampak yang berbeda. Jika virus batuk menyerang pada orang dewasa, akibat yang ditimbulkan paling sering adalah terjadinya flu biasa. Namun, ketika virus yang sama menyerang pada anak-anak, maka akan mengakibatkan terjadinya sesak napas. Faktanya, balita cenderung lebih sering sakit karena daya tahan tubuh mereka terhadap infeksi yang terjadi di sekitarnya masih rendah sehingga mereka cepat tertular.
“Jika penyakit ini (batuk) menyerang tentu akan ada efek lain pada anak-anak kita, di antaranya nafsu makan berkurang dan tidak bisa tidur nyenyak,” papar Lucy. Efek lebih jauh adalah berat badan menurun dan pertumbuhan anak menjadi terganggu. Batuk pada tingkat yang lebih serius lagi adalah batuk flek atau TB pada anak, serta batuk asma.
Lucy menuturkan, anak yang menderita asma, batuk merupakan gejala yang paling sering ditemui. Batuk pada asma akan semakin buruk terutama pada malam hari bila disebabkan oleh infeksi virus, gerak badan, dan udara dingin. Sedangkan jika batuk tersebut dicurigai sebagai TB, maka biasanya gejala yang timbul adalah batuk lebih dari tiga minggu, demam lebih dari dua minggu, terjadi pembesaran getah bening di leher, serta berat badan anak tidak naik. Dan kecurigaan yang patut menjadi dasar utama adalah anak pernah kontak dengan penderita TB. “Memang sangat sulit untuk mengetahui antara TB dan asma pada batuk anak. Kadang dikira asma tapi ternyata TB,” paparnya.
Meski sama-sama batuk yang terjadi dalam waktu lama dan tak kunjung sembuh, belum tentu batuk tersebut dapat dikatakan sebagai penyakit TB pada anak. Namun jika batuk tersebut terjadi secara berulang, maka terdapat dua kemungkinan yang patut dicurigai yakni batuk karena TB atau batuk karena asma. Oleh karena itu untuk mengetahui apakah batuk tersebut karena asma, TB, atau lainnya, pada kasus batuk kronik penggalian klinis perlu dilakukan dengan lebih seksama dan hati-hati, terutama dalam anamnesis (wawancara).
Dalam melakukan anamnesis, penilaian klinis dapat dimulai dengan beberapa cara, misalnya melihat umur pasien, sifat batuk akut atau kronik, batuk kering atau berdahak, dan seterusnya. Lucy menambahkan, bagi orangtua perlu dilakukan perbaikan lingkungan hidup karena faktor ini sering menjadi perangsang batuk. Caranya, hindari polusi udara, di antaranya berupa asap rokok, infeksi virus, bahan kimia, udara kering, dan berenang. Selain itu, perlu peningkatan daya tahan tubuh anak, pengendalian alergi bila ada, dan tentunya kerja sama orangtua dengan dokter.     (Ikrob Didik Irawan)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :