SOLO—Menjelang Idul Fitri, para perajin selongsong ketupat mulai menjamur. Anyaman terbuat dari daun kelapa muda (janur) itu, kini banyak dijumpai di sejumlah tempat di Kota Solo.
Salah seorang perajin selongsong ketupat, Mujianto, mengakui, meski permintaan masih belum banyak, namun ia yakin dalam waktu dekat dagangannya itu akan laris diserbu pembeli. “Sehari biasanya saya mampu membuat 400 biji,” tutur Mujianto, Minggu (28/8).
Pria asal Sragen yang sehari–harinya berprofesi sebagai petani ini menjual satu bundel ketupat yang berisi 10 biji seharga Rp 4.000. “Ya, ini cuma pekerjaan sampingan saja Mas, kalau pas mau Lebaran. Biasanya juga hanya di sawah, ngurusi sawah di desa. Saya dari Sragen ke sini naik motor, berangkat pagi, pulang kalau mau petang,” ujar pria yang sudah sejak 1970-an menekuni kerajinan selongsong ketupat.
Hal senada juga diungkapkan Atmin. Selama tujuh tahun, warga Salatiga ini memproduksi selongsong ketupat. Meski harus jauh dari keluarga untuk beberapa hari lamanya, ia sedikit pun tidak mengeluh.
“Saya tidur di sekitar emperan toko, karena saya di sini cuma sekitar tiga hari saja, mau pulang juga nanggung,” ujar lelaki yang kesehariannya membuat tusuk sate ini.
Menu Wajib
Dalam sehari, Atmin mampu membuat 500 biji ketupat. “Saya gak maksain diri, Mas. Saya membuat tempat ketupat hanya semampunya saja,” imbuhnya.
Karena menjadi menu wajib saat Lebaran, selongsong ketupat bikinan para perajin itu langsung diserbu para pembeli. Salah satunya yakni Ratmi, warga Sangkrah, Solo.
“Saya sudah hampir tiga tahunan, selalu membeli selongsong (ketupat) ini. Karena untuk membuatnya saja sulit. Di sini, saya bisa melihat bagaimana janur diubah menjadi tempat ketupat yang bagus di tangan bapak–bapak ini. Di rumah tinggal mengisi dengan beras saja biar jadi ketupat,” ujarnya.
Raditya Erwiyanto
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




