Mendalang bisa masuk kurikulum sekolah. Itulah obsesi dari Mudjiono, pendiri sanggar pedalangan khusus anak-anak, Sarotama. ”Saya memiliki cita-cita, supaya di sekolah-sekolah khususnya SD itu ada kurikulum atau kegiatan ektrakulikuler berupa mendalang,” katanya kepada Joglosemar di sanggarnya, Senin (15/2) pekan lalu.
Sanggar Sarotama yang dia dirikan sejak 1993 silam, kata dia, berlatar belakang dari kekagumannya pada dunia kanak-kanak. Menurutnya, masa kanak-kanak lebih mudah menyerap segala sesuatu yang diajarkan.
”Sebenarnya saya mendirikan tempat latihan sudah lama, kira-kira pada tahun 1985-an. Namun baru sekitar tahun 1993 sanggar tersebut saya beri nama Sarotama,” terang lelaki yang kini berprofesi sebagai pegawai Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta ini.
Hal lain yang memotivasinya untuk mendirikan sanggar Sarotama adalah obsesinya untuk mengajak anak mencintai kebudayaan. ”Kalau anak itu mengetahui budayanya maka anak tersebut lama-lama akan mengenal dan mencintai budaya leluhurnya,” tutur seniman yang tinggal di Jalan Gambiran 13, Ngringo, Jaten, Karanganyar ini.
Untuk ke depannya, Mudjiono berkeinginan mengajarkan seni karawitan serta pedalangan kepada anak-anak meski sudah pensiun. ”Saya pensiun tinggal dua tahun lagi,” ujarnya. (dui)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







