Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Cita-cita Pramugari Pupus, Kini Ingin Jadi Ahli Komputer

Jumat, 12/03/2010 09:00 WIB - Hanung Soekendro

Wajahnya yang putih, menarik, serta postur tubuhnya yang tinggi semampai menjadikan remaja berusia 14 tahun ini bermimpi menjadi seorang pramugari. Apalagi ditambah dengan tingkah lakunya yang sopan, maka mimpi itu bisa dengan mudah menjadi kenyataan.
Namun keinginan manusia kadang berbeda dengan kehendak Yang Kuasa. Gadis kelas dua SMPN 3 Padang Sumatra Barat, Lani Anggraini ini, harus melupakan impiannya. Kejadian gempa yang memporak porandakan Kota Padang 30 September 2009 lalu, ikut mengubur impiannya. Akibat terkena atap bangunan, kedua kakinya harus diamputasi.
Lani, gadis yang tegar itu menceritakan dengan runtut kejadian memilukan tersebut. Peristiwa yang menimpanya, juga hampir merenggut nyawa adiknya, Wahyu Saputra (10), yang kini duduk di kelas 5 SD. Dengan ditemani ayah, Dahlan (53) dan Ibunya, Kasmayeti (46), ia menceritakan sembari berbaring di salah satu kamar kelas I di RS Ortopedi Prof Dr R Soeharso, Surakarta.
Pada saat kejadian, Lani tengah berada di dalam Gedung Kursus Gama. Ia tengah mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia di salah satu ruang di lantai II. Ketika terasa ada gempa, ia dan teman temannya mencoba keluar ruangan dan turun melalui tangga. Namun sayang ia terjebak, dan reruntuhan bangunan menimpanya. Namun syukurlah, kondisi baik masih menaungi adik semata wayangnya yang saat itu berada di lantai III. “Saya terjebak di tangga. Dan kaki saya terkena reruntuhan atap,” ungkap gadis yang murah senyum tersebut.
Akibat kejadian itu, ia harus kehilangan kaki kirinya. Namun demikian, kaki kanannya juga tak bisa diselamatkan lantaran minimnya peralatan medis yang tersedia di kota asalnya. Maka setelah dirawat sekitar lima bulan, kaki kanannya tak kunjung sembuh dan justru terjadi pembusukan. Nahas, satu kakinya yang tersisa, turut diamputasi. Ketika ditanya perasaannya kehilangan kedua kaki, ia hanya tersenyum, tak mengutarakan sepatah kata pun.
Lani makin tak bisa berkata-kata saat diketahui ia tengah berulang tahun pada, Kamis (11/3). Ia hanya mengungkapkan, jika cita-citanya sebagai pramugari telah kandas. Untuk itulah ia ingin menjadi seorang ahli komputer. “Dulu ingin jadi pramugari, tetapi karena sekarang sudah tidak bisa, maka saya ingin jadi ahli komputer,” tuturnya di sela kunjungan Komisi IX DPR yang, rombongan anggota Dewan yang diketuai Irgan Khairul Mahfis, sempat menitipkan tali asih ke Lani.
Ibu Lani, Kasmayeti menjelaskan, bulan Februari lalu, putrinya terpaksa dirawat ke RS Ortopedi Dr Soeharso, lantaran pelayanan kesehatan di Padang belum pulih. “Di Padang, Lani sempat dioperasi lima kali. Sekarang akan dioperasi sekali lagi, sebelum dipasang kaki palsu,” terang Kasmayeti.
Sementara itu Dahlan menuturkan, dirinya berharap kesembuhan anaknya. “Yang penting sekarang sembuh dan segera dipasangi kaki palsu. Setelah itu, bisa kembali ke Padang untuk melanjutkan sekolahnya,” sambung Dahlan. Untungnya masalah dana pengobatan tak menjadi persoalan. Karena sudah ditanggung organisasi Handicap International. (Hanung Soekendro)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :