Pepatah mengatakan carilah ilmu dari lahir hingga ke liang lahat. Pepatah ini sangat pas untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan sekumpulan ibu-ibu. Mereka memiliki ketertarikan di bidang seni untuk memperdalam bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan berawal dari keterampilan mereka ini, para ibu dapat merasakan bagaimana suasana luar negeri.
“Kami pernah suatu ketika tampil di sebuah acara di Filipina,” ungkap Sri Setyoasih, yang juga pernah pentas di Australia, Hongkong, Singapura dan Jepang.
Tak mengherankan kelompok tari Sahita ini diminta pentas hingga ke luar negeri karena tarian yang disajikan memang lain. “Kami kan selain tari juga ada teater dan tembangnya. Tarian yang kami bawakan merupakan kolaborasi dari beberapa tarian. Kemudian tarian kami satukan dari beberapa tarian yang diambil secara tidak menyeluruh,” papar dosen seni tari ini.
Tarian yang dibawakan tidak jauh dari usia para pemainnya yang memang terbilang tidak muda lagi. “Kami memainkan karakter orangtua, karena kalau sudah seusia kami ini kan susah kalau harus kelihatan cantik,” ungkapnya sembari tersenyum.
“Kami kalau pentas selalu menyesuaikan judul maupun tema acaranya. Itu kami sesuaikan dengan permintaan pihak terkait sehingga dalam setiap pementasan kami tidak hanya sekadar menghibur tetapi juga menyampaikan pesan kepada para audien,” lanjut Sri Lestari.
Para personel Sahita mengaku jadwal latihan mereka tidak tentu karena kesibukan yang dimiliki oleh masing-masing anggota. “Kami latihan kalau akan pentas karena kami harus menyiapkan materi dan mengolah bahan serta disosialisasikan yang kemudian diterjemahkan dalam tarian. Kami sadar tari yang kami bawakan ini juga sekaligus sebagai sarana informasi,” terang Sri Lestari.
Karena mengandung sebuah informasi itulah maka ketika pentas para personelnya harus dapat menciptakan chemistry (kecocokan) dengan penonton sehingga apa yang ingin disampaikan dapat tersampaikan. (tia)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




