Setelah menjalankan ritual Qing Ming, warga Tionghoa berbaur dengan warga lokal melanjutkan ritual Ching Bing. Istilah Ching Bing kemudian lebih dikenal dengan nama Cembengan.
Istilah itu dipopulerkan warga Solo dan Yogyakarta, khususnya yang tinggal di sekitar pabrik gula. ”Istilah Ching Bing sudah memasyarakat, mereka menamakanya dengan Cembengan, dari kata Ching Bing-an, namun lafal masyarakat lebih fasih dengan istilah Cembengan,” kata pengurus Yayasan Tripusaka, Adjie Chandra. ”Waktunya tak jauh dari pelaksanaan Qing Ming, ya, sekitar bulan April-Mei.”
Ritual Cembengan merupakan ritual pengantin tebu atau Tebu Manten yang biasa dilakukan di Pabrik Gula Madukismo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Konon, Cembengan sudah dijalani sejak 1950-an.
Pasangan tebu yang jadi pengantin bernama Kiai Anggoro dan Nyai Kasih. Ritual diawali dengan pawai puluhan prajurit berpakaian beskap Jawa yang mengantar pasangan pengantin tebu tersebut pada siang hari.
Biasanya, sesaji terdiri dari 40 ayam bakar, kepala sapi dan kerbau serta jenis makanan lain. Sesaji Cembengan tersebut dikepung oleh peserta pawai dengan melantunkan doa. ”Harapannya sama, seperti tradisi Qing Ming yang supaya lancar urusan hidupnya. Tradisi Cembengan, bertujuan agar diberi kelancaran dalam menjalankan produksi tebu,” kata dia.
Mengapa tradisi Cembengan terkait erat dengan melibatkan warga etnis Tionghoa? Karena, dari sejarahnya, kala itu, letak makam para leluhur warga Tionghoa berada di dekat perkebunan tebu. ”Setelah warga bersembahyang Qing Ming di makam, para petani tebu memperhatikannya, mereka kemudian menyebutnya Ching Bing-an. Karena sulit mengeja lafalnya, para petani menyebutnya dengan istilah cembengan,” ucapnya. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




