Bulan Desember selalu identik dengan perayaan Natal. Hari yang diperingati umat Kristiani sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Entah mulai kapan persisnya, Hari Natal selalu dirayakan pada tanggal 25 Desember setiap tahun sejak ribuan tahun lalu. Menjelang Hari Natal, bahkan jauh sebelum tanggal 25 Desember, umat Kristiani sudah menciptakan ‘nuansa’ Natal dengan berbagai cara.
Sebagaimana perayaan hari besar agama lainnya, selalu ada yang khas dalam perayaan Natal. Dalam situasi seperti ini, sebagai bagian dari bangsa Indonesia dengan pluralitas yang dimiliki sikap saling toleransi harus dikembangkan. Pdt M Suyono S.PAK, Ketua Sekolah Tinggi Teologia Baptis Independen Indonesia (STTBII) Purworejo memaknai toleransi sebagai sikap saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.
Diutarakan jika dalam setiap perayaan hari besar keagamaan, termasuk Natal selalu dapat berlangsung dengan kondusif, aman, lancar dan tenteram, maka hal ini sudah merupakan perwujudan Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Dalam pasal ini disebutkan adanya jaminan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. “Karena itu, masing-masing warga negara sudah seharusnya menjaga kerukunan antarumat beragama,” terang dia.
Dikatakan, sebenarnya toleransi beragama itu sendiri berasal dari diri kita masing-masing. Menurut Suyono selama ini sering kali kita terlalu banyak membuang waktu, tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang ada di luar diri kita.
“Terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan kesalahan, keburukan maupun kelalaian orang lain. Sementara diri kita yang kita anggap sebagai yang terbaik ternyata tidak efektif untuk memperbaiki apa yang kita anggap salah,” terang dia.
Sementara itu, Rika Murwani Arum S, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi, Universitas Kristen Satya Wacana memaknai toleransi dalam lingkup Natal sebagai suatu proses memadu elemen pikiran dan hati agar menyatu atau bersepakat memperoleh hidup yang lebih bermakna berupa pencerahan spiritual atau pemahaman nilai-nilai moral kemanusiaan yang memberi ketenangan.
Setiap perayaan, kata dia, terutama perayaan keagamaan seperti Natal tentu harus berlangsung aman, lancar dan tenteram. Oleh karena itulah harus menjadi tanggung jawab semua pihak. Termasuk pengamanan perayaan-perayaan keagamaan lainnya adalah menjadi tanggung jawab bersama. “Terutama peran serta masyarakat memiliki bobot yang tinggi untuk menjaga ketertiban, keamanan dan kelancaran perayaan. Sehingga tidak lagi hanya ditimpakan kepada aparat keamanan,” terang dia.
Keberagaman
Toleransi dalam setiap perayaan hari besar keagamaan juga dapat berfungsi sebagai early warning system (sistem pencegahan dini) terhadap potensi terjadinya konflik sosial di dalam masyarakat. Tidak hanya itu, para pemuka dan tokoh agama juga ditantang untuk mengarahkan umatnya menghormati perbedaan dalam masyarakat Indonesia yang sangat beragam. "Karena selalu ada kesulitan (masalah-red) jika orang tidak mau menerima kelompok yang berbeda," imbuhnya.
Lebih lanjut, menurut Pritayanti, Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas PGRI Adi Buana Semarang menilai toleransi sebagai sesuatu yang penting. Menurut dia keyakinan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Jadi meskipun berbeda keyakinan tetapi semuanya mengajarkan kebaikan. Kesadaran akan pluralitas yang dimiliki Bangsa Indonesia perlu ditumbuhkan. Dengan demikian perdamaian, kenyamanan, dan keamanan bisa terwujud di bumi Indonesia yang beragam.
“Walaupun aku tidak merayakan natal, setidaknya aku memberi ucapan Natal kepada teman-teman yang merayakannya. Itu contoh kecil (toleransi-red),” jelasnya.
Kerukunan umat beragama, merupakan sebuah bentuk interaksi sosial yang tercipta karena masyarakatnya sadar dan menghargai pluralitas. Dengan demikian menimbulkan rasa toleransi dalam setiap individunya. Ini menjadi penting, karena toleransi merupakan sumber dari terciptanya perdamaian. Masyarakat Indonesia masih harus banyak belajar tentang arti toleransi terhadap sesama. (aditya/yeyen)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




