Kekebalan terhadap campak akan diperoleh setelah melakukan vaksinasi, infeksi aktif, dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (pernah terkena campak). Di antara yang rentan terhadap campak adalah bayi berumur lebih dari satu tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, serta remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua. Dalam mencegah tertularnya campak, pemberian imunisasi memegang peranan yang sangat penting. Karena memang penyakit yang tergolong self limiting diseases (dapat sembuh sendiri) ini tidak ada penawar untuk mengobatinya.
Penyakit campak sebetulnya tidak berakibat fatal apabila menyerang anak-anak yang sehat dan bergizi baik. Akan tetapi apabila campak menyerang suatu negara di mana anak-anaknya menderita kurang gizi, bisa berakibat fatal. “Untuk itu sangat perlu dilakukan tindakan pencegahan. Salah satu tindakan yang dinilai paling efektif adalah dengan cara melakukan imunisasi campak,” dr Aji Joko S, dokter umum RSUI Kustati Surakarta. Sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya, namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak.
“Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus ini. Sehingga imunisasi merupakan pencegahan terbaik,” terang Aji. Imunisasi campak idealnya dilakukan sebanyak dua kali yakni sekali pada usia sembilan bulan dan sekali pada usia enam tahun. Dan yang perlu diketahui oleh setiap orangtua adalah pemberian imunisasi campak pertama harus dilakukan sesuai dengan jadwal. Alasannya, selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia sembilan bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
Pelayanan imunisasi campak ini sendiri biasanya diberikan setiap bulan oleh petugas di setiap Puskesmas atau posyandu secara gratis. Akan tetapi banyak orangtua yang memiliki balita tidak memanfaatkan pelayanan tersebut dengan baik. Aji menjelaskan, pengobatan campak hanya bersifat simptomatis, yakni mengobati gejalanya saja. Misalnya, bila muncul demam maka yang diobati adalah gejala demamnya. Bila mengalami batuk maka obat batuk digunakan untuk meringankan batuknya. Demikian pula bila anak diare, maka sebaiknya diberikan antidiare.
“Pengobatan gejala sangat penting dilakukan. Karena bila tidak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa saja terjadi komplikasi terutama pada campak yang berat,” imbuhnya. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Hal ini terjadi karena virus campak dapat menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Komplikasi inilah yang sering menimbulkan kematian pada anak. (dik)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




