TOKYO—Gara-gara banyaknya warga bunuh diri dan menderita depresi, ekonomi Jepang tahun lalu merugi hampir 2,7 triliun yen, atau sekitar Rp 288,4 triliun. Kerugian ini merujuk pada hilangnya pendapatan dan biaya perawatan.
Demikian ungkap data Pemerintah Jepang, Selasa lalu. Menurut situs stasiun televisi BBC yang dikutip Vivanews.com, Rabu (8/9), ini merupakan kali pertama pemerintah Jepang mengungkapkan kerugian ekonomi akibat bunuh diri dan depresi. Tahun lalu, jumlah bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 32.000 kasus.
Pemerintah pun berencana membentuk satuan tugas untuk mengurangi kasus bunuh diri, yang sudah menjadi penyakit sosial bagi masyarakat Jepang. Sejak dahulu, bunuh diri dianggap masyarakat di Jepang sebagai jalan terakhir untuk mengatasi tekanan dan masalah yang dihadapi ketimbang merasa terhina.
Kasus bunuh diri di Negeri Matahari Terbit itu dari tahun ke tahun terus meningkat. “Dalam 12 tahun berturut-turut, jumlah rata-rata kasus bunuh diri sudah melebihi 30.000 kasus. Ini merupakan masalah yang harus ditangani serius oleh seluruh bangsa,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.
PM Jepang, Naoto Kan, melihat masalah ini menjadi bukti bahwa bangsanya mengalami masalah ekonomi dan emosional. “Ada banyak penyebab bunuh diri. Mengurangi tingkat kasus itu akan menjadi suatu cara untuk menciptakan masyarakat dengan meminimalkan tingkat keresahan,” kata Kan. (ida)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







